Identifying The Different Forms Of Herbal Medicine

By: Peter Garant

Although there are a lot of positive things to be said when it comes to herbal medicine, is still an undeniable fact however that what we proof we have is not yet enough to make taking herbal medicine completely safe.

Hence, when you're about to try out herbal medicine please make sure to check with your doctor first if what you're doing wouldn't be harmful to your body. Secondly, it's better to be able to identify the different forms of herbal medicine so you'd know if what you're taking is the real thing or not.

Essence - This is also one of the most popular forms that herbal medicine takes. Herbs in essential oils are processed through cold pressing or steam distillation. This form of herbal medicine is popular because a lot of people prefer to enjoy massages with the use of essential oils because it supposedly helps them relax more easily.

Pills and Capsules - People who violently resist the idea of taking herbal medicine in its raw form may find other products of herbal medicine in the form of pills and capsules. Herbal medicine is ground into powder to take this particular form. Usually, with this form of herbal medicine, the medicinal purpose is general and not meant to be a specific cure. Ampalaya capsules, for example, are taken simply to help improve your diabetes.

Infusions - This process involves the delicate parts of a plant like its leaves, seeds and fruits. The process simply takes several minutes to finish.

Poultice - There are some situations that require patients to take herbal medicine in the form of poultice. In this case, the herbs are macerated or chopped into tiny pieces and are then directly applied to the skin. After this, a hot, moist bandage is used to cover the area.

Raw - It's like going back to the primitive past when you're required to take this particular form of herbal medicine. Not only is the process somewhat undesirable, the taste of it leaves nothing to be desired as well. Many healthcare professionals, however, advise people to steep these raw herbs into tea because it's said to release its healing powers effectively.

Tinctures - Herbal medicine in liquid form.
Decoctions - This process involves the extraction of certain parts of a plant like the berries, roots and herb-bark. This process usually takes 45 minutes till an hour and a half.

And now that we're done with the list of forms of herbal medicine, we do hope that you benefit greatly from whatever herbal medicine product you're taking!
Article Source: http://www.articlesnatch.com
About the Author:Mr. Peter Garant is writing health, diet and exercise articles for the 1200 calories diet site and herbal health related articles for his herbal health site.

Tumbuhan Obat untuk Solusi Wasir

Oleh Hembing

Wasir atau ambeien atau istilah kedokterannya hemoroid sering dianggap penyakit yang memalukan, sehingga penderita enggan membicarakannya dan kadang segan untuk memeriksakan diri karena timbulnya di tempat yang kurang pantas yaitu di anus. Walaupun bukan termasuk penyakit yang membahayakan jiwa namun gangguan wasir sangat mengganggu.

Wasir merupakan penyakit yang ditandai dengan pembengkakan atau pembesaran pembuluh darah vena di daerah anus. Bila ada tekanan seperti mengejan ketika sembelit, wasir dan jaringan di sekelilingnya menjadi membengkak dan dapat menonjol keluar dari saluran pelepasan atau anus, biasanya juga disertai dengan keluarnya darah segar.

Ada dua tipe wasir, yaitu wasir dalam (internal hemorrhoid) dan wasir luar (external hemorrhoid). Wasir dalam timbul pada saluran usus yang dilapisi selaput lendir/mukosa, terjadi pembengkakan di dalam anus.

Pada wasir external pembengkakan pembuluh darah vena terjadi di luar, wasir menonjol keluar dari rektum, sehingga terlihat di sekitar anus.
Gejala–gejala adanya penyakit wasir yaitu pertama-tama akan timbul rasa panas, gatal, dan nyeri pada dubur, adanya tonjolan keluar dari rektum pada saat buang air besar, tonjolan akan menjadi lebih besar seiring dengan tekanan abdominal dan harus ditekan ke dalam dengan tangan. Wasir sering juga disertai dengan pendarahan, dalam banyak kasus darah segar keluar bersama feses sewaktu buang air besar. Rasa nyeri dan pendarahan bisa timbul dan hilang. Penderita wasir merasakan ketidaknyamanan terus-menerus.

Penyakit wasir merupakan hasil peningkatan tekanan dalam pembuluh vena di sekitar anus sehingga menghalangi aliran darah di anus. Kondisi tersebut terutama disebabkan karena seringnya sembelit (susah buang air besar). Dengan adanya penekanan feses yang keras pada usus dan disertai dengan pemaksaan pada waktu mengejan akan mengakibatkan pembesaran pada pembuluh darah vena yang berakibat wasir. Selain diakibatkan sembelit, wasir juga disebabkan karena pekerjaan yang menuntut duduk atau berdiri terlalu lama dan tidak berpindah-pindah, sering mengangkat beban terlalu berat, sering mengejan, faktor kegemukan, kurangnya makanan berserat yang mengakibatkan sembelit, hubungan seks melalui anus, infeksi anal atau rektal, dan tekanan pada usus akibat pembesaran rahim pada masa kehamilan.

Upaya pencegahan agar tidak terkena wasir yaitu dengan menerapkan hidup sehat, yaitu mengkonsumsi makanan berserat dalam jumlah yang cukup seperti sayur dan buah-buahan untuk menghindari terjadinya sembelit, olahraga secara teratur, hindari mengejan, jangan duduk terlalu lama dan pindah-pindahkan posisi duduk. Pada umumnya upaya pengobatan yang diberikan untuk mengatasi wasir tanpa operasi diantaranya yaitu, menghilangkan rasa sakit, mengurangi bengkak, mengatur kebiasaan buang air besar dan melunakkan feses.

Beberapa tanaman obat yang digunakan untuk wasir mempunyai efek merangsang buang air besar (pencahar), melunakkan feses, antiradang, mengecilkan pembengkakan dan melembutkan kulit (emoliens).

Beberapa tanaman obat yang dapat digunakan untuk mengatasi wasir, antara lain:

1.DAUN UNGU / Handeuleum (Graptophyllum pictum Griff.)
Efek : pencahar ringan (mild laxative), pelembut kulit (emolien)

2.LIDAH BUAYA ( Aloe vera L.)
Efek : Pencahar (laxative), antiradang, melembutkan kulit (emoliens)

3.KUNYIT (Curcuma longa L.)
Efek : antiradang, antibakteri, melancarkan sirkulasi darah, menghilangkan sumbatan, astringent.

4.DAUN DEWA (Gynura segetum Lour.)
Efek : mengurangi pembengkakan, melancarkan sirkulasi darah, mengurangi rasa sakit (analgetik)

5.KROKOT (Portulaca oleracea L.)
Efek : Menghilangkan sakit, mengurangi bengkak, melancarkan sirkulasi darah.

6.SOSOR BEBEK (Kalanchoe pinnata Pers.)
Efek : Antiradang, mengurangi pembengkakan, menghentikan pendarahan.

7.AKAR TERATAI (Nelumbium nelumbo Druce.)
Efek : Menghentikan pendarahan

8.PEGAGAN (Centella asiatica Urban.)
Efek: Anti-infeksi, menyejukkan

Berikut beberapa contoh resep herba/tanaman obat untuk mengobati wasir :

Pemakaian dalam
Resep 1.
15 lembar daun ungu/handeuleum + 20 gram kunyit + 15 gram pegagan, dicuci dan direbus dengan 600 cc air hingga 300 cc, disaring, airnya diminum 2 kali sehari, setiap kali 150 cc.

Resep 2.
90 gram daun lidah buaya (dikupas kulitnya dan dipotong-potong) + 15 gram daun dewa, direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, tambahkan madu, airnya diminum, daging daun lidah buayanya dimakan.

Resep 3.
Akar teratai dicuci bersih lalu dijuice hingga airnya terkumpul 1 gelas ukuran 200 cc, lalu diminum. (Untuk wasir berdarah).

Resep 4.
30 gram krokot + 30 gram daun cocor bebek, dicuci, lalu direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, tambahkan madu, airnya diminum 2 kali sehari.

Pemakaian luar :
Daun lidah buaya dikupas kulitnya kemudian dijus. Ambil jus lidah buaya secukupnya, tambahkan bubuk norit dan bubuk gambir secukupnya dengan perbandingan 3 : 1, aduk hingga rata lalu dioleskan pada wasir yang menonjol keluar.

Catatan :
Hindari makanan pedas, daging kambing, goreng-gorengan, durian dan perbanyak makanan berserat seperti sayur dan buah-buahan..
pilih salah satu resep pemakaian dalam dan lakukan secara teratur
untuk perebusan gunakan periuk tanah atau panci enamel
Sumber : CBN

Pegagan (Centella asiatica, (Linn), Urb.)

Pegagan (Centella asiatica, (Linn), Urb.)
Sinonim : = Hydrocotyle asiatica, Linn. = Pasequinus, Rumph.
Familia : Umbelliferae

Uraian :
Terna liar, terdapat di seluruh Indonesia, berasal dari Asia tropik. Menyukai tanah yang agak lembab dan cukup mendapat sinar matahari atau teduh, seperti di padang rumput, pinggir selokan, sawah, dan sebagainya. Kadang-kadang di tanam sebagai penutup tanah di perkebunan atau sebagai tanaman sayuran (sebagai lalab), terdapat sampai ketinggian 2.500 m di atas permukaan laut. Pegagan merupakan terna menahun tanpa batang, tetapi dengan rimpang pendek dan stolon-stolon yang merayap dengan panjang 10 cm - 80 cm, akar keluar dari setiap bonggol, banyak bercabang yang membentuk tumbuhan baru. Helai daun tunggal, bertangkai panjang sekitar 5 cm - 15 cm berbentuk ginjal. Tepinya bergerigi atau beringgit, dengan penampang 1 cm - 7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2 - 10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda, tersusun dalam karangan berupa payung, tunggal atau 3-5 bersama-sama keluar dari ketiak daun. Tangkai bunga 5 mm - 50 mm. Buah kecil bergantung yang bentuknya lonjong/pipih panjang 2 - 2,5 mm, baunya wangi dan rasanya pahit.

Nama Lokal :
Daun kaki kuda (Indonesia), Pegaga (Ujung Pandang); Antanan gede, Antanan rambat (Sunda), Dau tungke (Bugis); Pegagan, Gagan-gagan, Rendeng, Kerok batok (Jawa); Kos tekosan ( Madura), Kori-kori (Halmahera);

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Hepatitis, Campak, Demam, Amandel (Tonsilis), Sakit tenggorokan; Bronkhitis, Infeksi dan Batu saluran kencing, Mata merah, Wasir; Keracunan, Muntah darah, Batuk darah, mimisan, Cacingan, Lepra;

Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIPAKAI : Seluruh tanaman.

KEGUNAAN :
1.Infectious hepatitis, campak (measles).
2.Demam, radang amandel (tonsillitis), sakit tenggorok, bronchitis.
3.Infeksi dan batu sistem saluran kencing.
4.Keracunan Gelsemium elegans, arsenic.
5.Muntah darah, batuk darah, mimisan.
6.Mata merah, wasir.
7.Sakit perut, cacingan, menambah nafsu makan.
8.Lepra.

PEMAKAIAN: 15 - 30 gram pegagan segar, direbus, minum. Atau dilumatkan, peras, minum airnya.

PEMAKAIAN LUAR : Dilumatkan, ditempel ke bagian yang sakit. Dipakai untuk: Gigitan, ular, bisul, luka berdarah, TBC kulit.

CARA PEMAKAIAN :
1. Kencing keruh (akibat infeksi/batu sistem saluran kencing):
30 gram pegagan segar direbus dengan air cucian beras dari bilasan
kedua.

2. Susah kencing: 30 gram pegagan segar dilumatkan, tempel di pusar.

3. Demam:
Segenggam daun pegagan segar ditumbuk, kemudian ditambah
sedikit air dan garam, saring. Diminum pagi-pagi sebelum makan.

4. Darah tinggi:
20 lembar daun pegagan ditambah 3 gelas air, direbus sampai
menjadi 3/4-nya. Sehari diminum 3 x 3/4 gelas.

5. Wasir:
4-5 batang pegagan berikut akar-akarnya direbus dengan 2 gelas air
selama ± 5 menit. Minum rebusan ini selama beberapa hari.

6. Pembengkakan hati (liver) :
240 gram - 600 gram pegagan segar direbus, minum secara rutin.

7. Campak: 60 -120 gram pegagan direbus, minum

8. Bisul :
30 gram - 60 gram pegagan segar direbus, diminum. Pegagan segar
dicuci bersih, dilumatkan ditempelkan ke yang sakit.

9. Mata merah, bengkak :
Pegagan segar dicuci bersih, dilumatkan, diperas, airnya disaring.
Teteskan ke mata yang sakit 3 - 4 kali sehari.

10. Batuk darah, muntah darah, mimisan :
60 - 90 gram pegagan segar direbus, atau diperas, airnya diminum.

11. Batuk kering :
segenggam penuh pegagan segar dilumatkan, peras. Ditambah air
dan gula batu secukupnya. Minum.

12. Lepra :
3/4 genggam pegagan dicuci lalu direbus dengan 3 gelas air,
sampai menjadi 3/4 -nya. Saring, diminum setelah dingin, sehari 3 x
3/4 gelas.

13. Penambah nafsu makan :
1 genggam daun pegagan segar direbus dengan 2 gelas air sampai
menjadi 1 gelas. Minum sehari 1 gelas.

14. Teh daun pegagan segar berkhasiat :
Pembangkit nafsu makan, menyegarkan badan, menenangkan,
menurunkan panas, batuk kering, mengeluarkan cacing di perut,
mimisan.

15. Lalaban pegagan berkhasiat segar berkhasiat :
Membersihkan darah, terutama pada bisul, tukak berdarah.
Memperbanyak empedu, sehingga memperbaiki gangguan
pencernaan.

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Rasa manis, sejuk. Anti infeksi, antitoxic, penurun panas, peluruh air seni. KANDUNGAN KIMIA : Asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahminoside, brahmic acid, madasiatic acid, meso-inositol, centellose, carotenoids, garam-garam mineral seperti garam kalium, natrium, magnesium, kalsium, besi, vellarine, zat samak. Senyawaan glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside dan senyawaan sejenis, mempunyai kasiat anti lepra (Morbus Hansen),
sumber iptek.net.id

Indoor Organic Herb Garden

Author: Anna Hart

Growing an organic herb garden is a delightful project. The fragrant plants not only look and smell good; they are also good for flavoring foods.

Indoor organic herb gardens have the advantage of being year-round, giving a continuous supply of fresh herbs. An indoor organic herb garden can be as small as a few pots on a window sill or as large as a greenhouse filled with containers of aromatic organic herbs.

Herb Choices
There are many ways to decide which herbs to include in your organic herb garden. Here are some ideas.

1. Italian Herb Garden: Plant rosemary, oregano, basil, fennel, and chives. Terra cotta containers will make your indoor organic herb garden look authentically old world.

2. French Herb Garden: Begin with lemon basil, marjoram, and parsley, and add other herbs you like to use in French cooking.

3. Fragrant Herb Garden: Choose angelica, bergamot, catmint, chamomile, thyme, lavender, lemon balm, mint, and sage. This organic herb garden is a natural air freshener.

4. Tea Herb Garden: If you enjoy herbal teas, your organic herb garden might focus on appropriate herbs for your tea: catnip, chamomile, lavender, lemon grass, mint, and peppermint.

You may not want to theme your indoor organic herb garden, but simply grow a few herbs that appeal to you.

Containers
Many herbs are well-suited to container gardening, but you will want to choose containers according to the herbs you intend to grow.

1. Those tiny herb peat pots sold in discount stores give the wrong idea. Your indoor organic herb garden will not last long with such small thinking.

2. Begin with containers a bit larger than those in which the live nursery plants were purchased. This will give your plants room to start growing.

3. Once your herbs are stabilized and growing well, transplant them into larger containers.

4. Basil, mint, oregano, and sage are examples of herbs that can be grown in pots of about 8 to 10 inches.

5. If you want a large crop of herbs that is constantly being replenished in your organic herb garden, use 3 to 5 gallon containers. This will assure you of having plenty of rosemary, basil, etc. when you want it.

Container Soil
Indoor organic herb gardens call for building organic soil. Your soil should have a pH of about 7, since herbs prefer a more alkaline soil. If yours is too acid, add some calcified seaweed. Be sure you use only organic fertilizers to build your soil.

Indoor Lighting
An indoor organic herb garden will need lighting, especially if your room is not sunny. Lighting is especially important for year-round indoor gardens.

Different plants have different light requirements, some preferring bright sun and others preferring shade. Most herbs prefer full sun, but there are exceptions, so learn what each of your herbs needs.

Incandescent lights, even though called "grow lights", are a poor choice for your indoor organic herb garden. Fluorescent lights are better, and have the advantage of being inexpensive, easily available, and easy to set up. The best choice for lighting your indoor organic herb garden is high intensity discharge lighting, often called HID lights. These are even more affordable and efficient.

Useful and Beautiful
An indoor organic herb garden can be both useful and beautiful. Herbs are generally eager to please, and require little maintenance. Simply give them the right food, water, and sunlight, and they will reward you abundantly.

© 2007, Anna Hart. Anna Hart invites you to read more of her articles about organic gardening at http://www.organicspringtime.com. Anna is posting new articles every week on that site, each one dealing with some facet of organic gardening. If you want information on locating live organic herb plants for your organic herb garden, you won't want to miss Anna's article on the subject.
Article Source: http://www.articlesbase.com/gardening-articles/indoor-organic-herb-garden-120399.html

Jati Belanda Si Pelangsing Pengusir Kaki Gajah

INDONESIA sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam, merupakan negara yang sangat potensial dalam bahan baku obat. Ribuan jenis tumbuhan yang diduga berkhasiat obat, sudah sejak lama secara turun-temurun dimanfaatkan oleh masyarakat kita. Biasanya, selain untuk pengobatan juga dimanfaatkan sebagai pencegahan dan pemulihan stamina serta kosmetika.

Adalah Guazuma ulmifolia Lamk atau yang dikenal di Indonesia dengan nama jati belanda, merupakan tanaman yang tumbuh baik di iklim tropis seperti negara kita ini. Tanaman dari kelas Dicotyledonae ini termasuk dalam famili Sterculiaceae, dan diduga berasal dari negara Amerika yang beriklim tropis. Tanaman ini tumbuh di dataran rendah sampai dengan ketinggian 800 mdpl. Jati belanda biasanya ditanam sebagai pohon peneduh, tanaman pekarangan atau tumbuh liar begitu saja.

Jati belanda atau jati londo dalam bahasa Jawa, dan dikenal dengan nama bastard cadar dalam bahasa Inggris, merupakan pohon yang berbatang keras bercabang, berkayu bulat dengan permukaan batang yang kasar, dan berwarna coklat kehijauan. Daunnya berbentuk bulat telur berwarna hijau dengan pinggiran bergerigi, permukaan kasar, ujung rucing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip berseling, dan berukuran panjang 10-16 cm serta lebar 3-6 cm. Bunganya, berwarna kuning, berbau wangi serta memiliki titik merah di bagian tengah, berbentuk mayang dan muncul di ketiak daun. Buah dari tanaman ini berbentuk bulat, keras, memiliki lima ruang, permukaan tidak rata berwarna hijau ketika muda dan berubah menjadi cokelat kehitaman setelah tua.

Tanaman ini biasanya diperbanyak dengan biji, cara memperbanyak dengan cangkok masih sulit dilakukan dengan tingkat keberhasilan 50 persen. Ditambah lagi, cara setek dengan perlakuan khusus sekalipun belum banyak membantu. Daun Jati belanda akan siap dipanen ketika pohon sudah berumur 2-3 tahun dan akan berbuah setelah berumur kurang lebih 5-6 tahun.

Khasiat daun
Saat ini, jati belanda masih jarang dibudidayakan secara intensif. Selain itu, bibit tanaman juga masih jarang ditemukan dalam jumlah besar. Jika ada, harganya pun relatif mahal, yaitu sekira Rp 5.000,00 per bibit dengan ukuran tinggi pohon 0,5 meter. Hal ini bisa dimaklum karena pengadaan bibit jati belanda tak semudah pengadaan bibit tanaman lain. Namun, jika dilihat dari khasiat dan kegunaan dari tanaman ini, harga tersebut menjadi tak berarti.

Daun, buah, biji, dan kulit kayu bagian dalam merupakan bagian tanaman yang bisa dipergunakan sebagai obat. Secara umum, zat utama yang terkandung dari seluruh bagian tanaman adalah tanin dan musilago. Kandungan lainnya yaitu resin, flavonoid, karotenoid, asam fenolat, zat pahit, karbohidrat, kafein, terpen, juga senyawa – senyawa lain seperti sterol, beta-sitosterol, friedelin-3-alfa-asetat, friedelin -3-beta-ol,alkoloida serta karbohidrat dan minyak lemak.

Tanin yang banyak terkandung di bagian daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago yang berbentuk lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago, absorbsi usus terhadap makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi alasan banyaknya daun jati belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut perut dan pelangsing. Dalam perkembangannya, daun jati belanda juga banyak dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit kolesterol dan rematik gout.

Tak hanya sampai di situ, dewasa ini daun jati Belanda juga dapat digunakan sebagai obat elephantiasis atau penyakit kaki gajah. Gejala khas yang timbul dari penyakit ini adalah adanya pembengkakan yang sangat besar pada jaringan – jaringan pengikat dan pembuluh getah bening yang. Penyakit ini disebabkan oleh aktivitas sejenis cacing yang menyumbat aliran getah bening.


Cara meramu
Sebagian sumber berpendapat, bagian tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kaki gajah adalah bagian kulit kayu sebelah dalam. Namun, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa daunnya pun apalagi jika dicampur dengan ramuan lain maka dapat pula dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Untuk mengobati kaki gajah, daun yang akan digunakan sebagai ramuan dipilih daun yang segar dan berwarna hijau tua. Daun diambil secukupnya, dikeringkan dengan cara diangin – anginkan, tetapi harus dihindarkan dari cahaya matahari langsung karena dapat mengubah warna daun menjadi cokelat kehitaman. Pengeringan yang tidak benar akan mengurangi khasiat zat aktif yang dikandungnya.

Selanjutnya, daun yang sudah kering digiling sampai menjadi serbuk. Serbuk diambil kira – kira sebanyak 20 gram serbuk, kemudian seduh dengan air panas, disaring, dan air saringannya diminum sehari 2 kali. Selain itu, untuk menambah efek farmakologi dari ramuan ini, bisa juga dengan cara menambahkan rimpang bangle atau panglai (bahasa Sunda). Caranya, ambil tujuh lembar daun jati belanda dan sebesar jari rimpang bangle. Bahan – bahan dicuci hingga bersih kemudian direbus dengan satu setengah gelas air hingga tersisa kira – kira satu gelas lagi. Setelah dingin disaring, dan dibagi menjadi 2 untuk diminum pagi dan sore hari.

Harus diakui, bahwa cara kerja dan efek farmakologi dari daun jati belanda sebagai obat kaki gajah belum diteliti secara nyata. Namun, tidak ada salahnya apabila kita mencoba menggunakan tanaman ini sebagai salah satu pengobatan alternatif dalam mengatasi penyakit kaki gajah.***PR-9-3-2006

Joni Hendri, Am.A.K.
Alumnus Analis Kesehatan, Poltekkes Bandung dan Teknisi Litkayasa di Loka Litbang P2B2 Ciamis, Balitbang Kesehatan RI.

Tanaman Obat Jati Belanda

Jati Belanda
(Guazuma ulmifolia Lamk, var. Tomentosa Schum.)
Sinonim :
Guazuyna tomentosa Kunth.

Familia :
Sterculiaceae.

Uraian :
Tanaman pohon, tinggi lebih kurang 10 meter. Batang keras, bulat, permukaan kasar, banyak alur, berkayu, bercabang, warna hijau keputih-putihan. Daun tunggal, bulat telur, permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, panjang 10-16 cm, lebar 3-6 cm, warna hijau. Bunga tunggal, bulat di ketiak daun, warna hijau muda. Buah kotak, bulat, keras, permukaan berduri, warna hitam.

Nama Lokal :
NAMA SIMPLISIA: Gliazumae Folium; Daun Jati belanda.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Khasiat Diaforetik, tonik, dan astringen. PENELITIAN Yusuf Husni, 1986. Fakultas Farmasi, UNAIR. Telah melakukan penelitian pengaruh pemberian daun Jati belanda terhadap kadar kreatin dan urea pada serum darah kelinci. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata pemberian daun Jati belanda selama 2 bulan tidak menaikkan kadar kreatin dan urea. Hal ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengetahui ada tidaknya kelainan fungsi ginjal setelah pemberian Jati belanda. Subandrio Joko Semedi, 1987. Fakilltas Farmasi, UNAIR. Telah melakukan penelitian pengaruh pemberian seduhan daun Jati belanda terhadap aktivitas enzim SGOT, SGPT, dan SGGT. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata pemberian seduhan daun Jati belanda selama 1 bulan tidak berpengaruh terhadap aktivitas enzim SGOT, SGPT, dan SGGT. Hal ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengetahui ada tidaknya kelainan fungsi hati setelah pemberian Jati belanda. Lies Andarini, 1987.Jurusan Biologi, FMIPA UNAIR. Telah melakukan penelitian pengaruh pemberian infus daun Jati belanda terhadap berat badan mencit. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian infus daun Jati belanda 5 %, 10 %, 15 %, dan 20%, masing-masing sebanyak 0,5 ml dapat menurunkan berat badan mencit. Pemberian infus daun Jati belanda 15% dan 20%, masing-masing 0,5 ml dapat menurunkan jumlah makanan mencit.

Pemanfaatan :
Bagian yang Digunakan
Daun, kulit kayu, dan buah.

KEGUNAAN
Daun: Kegemukan.

Buah:
Bronkhitis.

Biji:
1. Kegemukan.
2. Sakit perut.


RAMUAN DAN TAKARAN
Kegemukan
Ramuan:
Daun Jati belanda 7 helai
Daun Tempuyung 7 helai
Serbuk Majakan sedikit
Air 115 ml

Cara pembuatan:
Dibuat infus atau diseduh.
Cara pemakaian:
Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Lama pengobatan:
Diulang selama 30 hari.

Sakit Perut dan Perut Kembung
Ramuan:
Buah Jati belanda (serbuk) 2 sendok teh
Air mendidih 100 ml
Minyak Adas (bila perlu) 1 tetes

Cara pembuatan: Diseduh
Cara pemakaian: Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml.
Lama pengobatan: Diulang selama 7 hari.

Komposisi :
Tanin, lendir, zat pahit, dan damar
sumber : iptek.net.id

Waru Tanaman Obat Indonesia

Waru
(Hibiscus tiliaceus L.)
Sinonim :
--
Familia :
malvaceae.

Uraian :
Tumbuhan tropis berbatang sedang, terutama tumbuh di pantai yang tidak berawa atau di dekat pesisir. Waru tumbuh liar di hutan dan di ladang, kadang-kadang ditanam di pekarangan atau di tepi jalan sebagai pohon pelindung. Pada tanah yang subur, batangnya lurus, tetapi pada tanah yang tidak subur batangnya tumbuh membengkok, percabangan dan daun-daunnya lebih lebar. Pohon, tinggi 5-15 m. Batang berkayu, bulat, bercabang, warnanya cokelat. Daun bertangkai, tunggal, berbentuk jantung atau bundar telur, diameter sekitar 19 cm. Pertulangan menjari, warnanya hijau, bagian bawah berambut abu-abu rapat. Bunga berdiri sendiri atau 2-5 dalam tandan, bertaju 8-11 buah, berwarna kuning dengan noda ungu pada pangkal bagian dalam, berubah menjadi kuning merah, dan akhirnya menjadi kemerah-merahan. Buah bulat telur, berambut lebat, beruang lima, panjang sekitar 3 cm, berwarna cokelat. Biji kecil, berwarna cokelat muda. Daun mudanya bisa dimakan sebagai sayuran. Kulit kayu berserat, biasa digunakan untuk membuat tali. Waru dapat diperbanyak dengan biji.

Nama Lokal :
NAMA DAERAH Sumatera: kioko, siron, baru, buluh, bou, tobe, baru, beruk, melanding. Jawa: waru, waru laut, waru lot, waru lenga, waru lengis, waru lisah, waru rangkang, wande, baru. Nusa Tenggara: baru, waru, wau, kabaru, bau, fau. Sulawesi: balebirang, bahu, molowahu, lamogu, molowagu, baru, waru. Maluku: war, papatale, haru, palu, faru, haaro, fanu, halu, balo, kalo, pa. Irian jaya: kasyanaf, iwal, wakati. NAMA ASING Tree hibiscus. NAMA SIMPLISIA Hibisci tiliaceus Folium (daun waru), Hibisci tiliaceus Flos (bunga waru).

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Daun berkhasiat antiradang, antitoksik, peluruh dahak, dan peluruh kencing. Akar berkhasiat sebagai penurun panas dan peluruh haid.

Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIGUNAKAN
Bagian yang digunakan adalah daun, akar, dan bunga.

INDIKASI
Daun waru digunakan untuk pengobatan :
TB paru-paru, batuk, sesak napas,
Radang amandel (tonsilitis),
Demam,
Berak darah dan lendir pada anak, muntah darah,
Radang usus,
Bisul, abses,
Keracunan singkong,
Penyubur rambut, rambut rontok,

Akar digunakan untuk mengatasi :
terlambat haid,
demam.

Bunga digunakan untuk pengobatan :
radang mata.

CARA PEMAKAIAN
Untuk obat yang diminum, gunakan daun segar sebanyak 50-100 g atau 15-30 g bunga. Rebus dan air rebusannya diminum.

Untuk pemakaian luar, giling daun waru segar secukupnya sampai halus. Turapkan ramuan ini pada kelainan kulit, seperti bisul atau gosokkan pada kulit kepala untuk mencegah kerontokan rambut dan sebagai penyubur rambut.

CONTOH PEMAKAIAN:
TB Paru
1.Potong-potong 1 genggam daun waru segar, lalu cuci seperlunya. Tambahkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa sekitar 3/4-nya. Setelah dingin, saring dan tambahkan air gula ke dalam air saringannya, lalu minum, sehari 3 kali, masing-masing 3/4 gelas minum.
2.Sediakan daun waru, pegagan (Centella asiatica L.), dan daun legundi (Vitex trifolia L.) (masing-masing 1/2 genggam), 1/2 jari bidara upas (Merremia mammosa Lour.), 1 jari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.), dan 3 jari gula enau. Cuci semua bahan-bahan tersebut, lalu potong-potong seperlunya. Masukkan ke dalam periuk tanah atau panci email. Masukkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa 3/4nya. Setelah dingin, saring dan air saringannya siap untuk diminum, sehari 3 kali, masing-masing 3/4 gelas.

Batuk
Cuci 10 lembar daun waru segar, lalu potong-potong seperlunya. Tambahkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa 3/4 bagian. Setelah dingin saring dan air saringannya diminum, sehari 3 kali, masing-masing 1/3 bagian. Sebelum diminum, tambahkan madu secukupnya.

Batuk berdahak
Cuci 10 lembar daun waru yang masih muda sampai bersih, lalu tambahkan gula batu seukuran telur burung merpati. Tambahkan 3 gelas air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa 3/4 bagian. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum, sehari 3 kali minum, masing-masing 1/3 bagian.

Radang amandel
Cuci 1 genggam daun waru segar, lalu rebus dalam 2 gelas air bersih sampai air rebusannya tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya digunakan untuk berkumur (gargle), terus diminum, sehari 3-4 kali, setiap kali cukup seteguk.

Radang usus
Makan daun waru muda yang masih kuncup sebagai lalap.

Berak darah dan lendir pada anak
Cuci 7 lembar daun waru muda (yang masih kuncup) sampai bersih. Tambahkan 1/2 cangkir air sambil diremas-remas sampai airnya mengental seperti selai. Tambahkan gula aren sebesar kacang tanah sambil diaduk sampai larut. Peras dan saring menggunakan sepotong kain halus. Minum air saringan sekaligus.

Muntah darah
Cuci 10 lembar daun waru segar sampai bersih, lalu giling halus. Tambahkan 1 cangkir air minum sambil diremas-remas. Selanjutnya, saring dan tambahkan air gula secukupnya ke dalam air saringannya, lalu minum sekaligus.

Rambut rontok
Cuci 301embar daun waru segar dan 20 daun randu segar ( Ceiba pentandra Gaertn.), lalu giling sampai halus. Tambahkan 2 sendok makan minyak jarak dan air perasan 1 buah jeruk nipis, sambil diaduk sampai rata. Saring ramuan tersebut menggunakan sepotong kain sambil diperas. Gunakan air perasannya untuk menggosok kulit kepala sambil dipijat ringan. Lakukan sore hari setelah mandi, lalu bungkus rambut dengan handuk atau sepotong kain. Selanjutnya, cuci rambut keesokan harinya. Lakukan 3 kali seminggu.

Penyubur rambut
Cuci 15 lembar daun waru muda, lalu remas-remas dalam 1 gelas air bersih sampai airnya seperti selai. Selanjutnya, peras dan saring menggunakan sepotong kain. Embunkan cairan yang terkumpul selama semalam. Keesokan paginya, gunakan cairan tersebut untuk membasahi rambut dan kulit kepala. Alhasil, kepala menjadi sejuk dan rambut akan tumbuh lebih subur.

Komposisi :
Daun mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol, sedangkan akarnya mengandung saponin, flavonoida, dan tanin.
sumber : Iptek.net.id

I Love Growing Herbs

Author: Harvey Robinson

I love growing herb plants, they are cheap and easy to grow, they grow well indoors through the winter and I get to eat them. Herb plants grown well in cheap plastic plant containers. I got a stack of them out of the trash dumpster behind my local plant store. A few packets of seeds, some salvaged containers, some dirt and it is amazing how much will grow.

Most herbs are tough wild plants which thrive when pampered by gardeners. Having a few of the basic cooking herbs growing in containers is convenient because they are all a few steps from my kitchen. If I decide I need an herb in the middle of cooking, I cut a little fresh without having to drive to the store. Herbs can be harvested by simply cutting off what you need, I keep a small pair of scissors just for that. Cooking with fresh herbs is much better than the dried stuff they call herbs that come in little plastic containers. The flavor of fresh herbs is better but the potency of dried herbs is about three times that of fresh, so if you are using fresh herbs in a recipe that called for dried herbs, keep this in mind.

Herbs and spices - Culinary herbs are different from spices. For the most part, culinary herbs are fresh or dried leaves. Spices are seeds, roots, fruits, flowers, and bark. Culinary herbs usually have a mild flavor while spices tend to have a stronger, pungent flavor.

Annuals, Biennials and Perennials - Annuals bloom one season, put out a lot of seeds and die, biennial herbs live two seasons, blooming the second season only, perennial herbs bloom each season once established and can be propagated by division or cuttings.

What to grow? - Grow what you like to eat. If you cook a lot, you probably already have some idea what herbs you'd like. I grow some herbs because they are used in cuisines I like to eat. Cilantro for Mexican food, basil and rosemary for Italian.

Lavender, rosemary, bay laurel, marjoram, dill, oregano, sage and thyme are all easy to grow cooking herbs. This will start you out with herbs you can eat. They are all from the mild, dry climate of the Mediterranean and grow well together. They need well draining soil, bright sun, and moderate temperatures. Many of the Mediterranean herbs are very sensitive to soil moisture conditions. Raised beds are sometimes needed to provide the necessary drainage. Oregano, and thyme have tried to take over my garden many times. Now I put them in pots, and sink them into the ground. They grow better this way also because I can use soils that drain better just for them. Some of the best easy-to-grow herbs will take over the garden if you do not watch them.

Every herb garden needs at least five kinds of basil. Basil, is not really a mediterranean herb and needs more water. Parsley, chervil, and mint grow best on soils which retain moisture. Chamomile and mints are always good to have growing for tea. Mints are another plant that are good to grow in pots because once they get going they will quickly overwhelm other plants. Peppermint does not produce seeds and can only be propagated by cuttings.

Mints, oregano, rosemary, thyme, and tarragon, should be purchased as plants or propagated by cuttings. If you are planting herb plants from the garden store, plant them in the same way you would plant any other plant, dig a hole, put the plant in and water it well. The woodier herb plants like rosemary, thyme and oregano are better grown from established plants.

Growing herbs outside - Pick a spot that gets at least 6 hours of direct sun each day. Do not plant where water stands or runs during heavy rains. If you don't have good drainage raised beds will fix it. Add dead leaves and compost to the soil. If you are starting your plants from seeds, put some dirt in a bucket, add a few packets of seeds and scatter them over the soil and water well. The plants will begin to sprout in about a week.

Dry some of your harvest so you'll have dried herbs through the winter. You'll never go back to those sad little plastic containers from the grocery store. The shelf life of many herbs is one to two years as long as they are not exposed to light, heat and air. Leaves keep their flavor best when they are stored whole and crushed just before use. Seeds for cooking should be stored whole and ground up as needed.

Keep them well watered, make sure your soil has drainage, make sure to plant them in a place they will get sun, but not too much, feed them a little and they will pay you back many times over. Never use fertilizer, just good dirt with some mulch from the back yard and some alfalfa pellets or some cow manure. Continue to plant seeds every couple of weeks all season long so you will always have fresh herbs available. Most herbs reach their peak for flavor before flowering, that is the best time to harvest leaves or seeds for storage.

Growing herbs inside - Growing herbs inside requires good drainage, sunlight and water. Put an inch of gravel at the bottom of each pot for drainage. Herbs grow best inside in a location with bright, filtered light. A south or west windowsill provides a good spot for an herb garden. Keep plenty of space between your plants to allow for air circulation, Herbs in smaller containers tend to dry out faster, water more often if needed.

Fertilizing - Too much fertilizer produces poor tasting herbs. Heavy applications of fertilizer, will decrease the concentration of essential oils. Don't fertilizing your herbs in winter. Most plants, especially the warm-climate ones, are asleep and not growing in winter.

Compost is the best fertilizer around. Just toss a handful or two of it around the base of the plant. Mix in lots of organic matter to the soil like mulched leaves to improve texture and drainage.
Plants do not eat fertilizer, they use photosynthesis to eat light. It is amazing but that is what they do. Giving them too much fertilizer is like taking too many vitamins.
*)Harvey Robinson is a long time grower of herbs and webmaster of http://www.yearstoyourhealth.com/herbs/ and http://www.eatmoreherbs.com/growing_herbs/

Article Source: http://www.articlesbase.com/gardening-articles/i-love-growing-herbs-133091.html

Herbs and Healthy Aging

Author: Rick White

Many of us know that in today's time of health awareness that herbs are emerging as very popular products in maintaining good health. Many herbs are now being used in place of some of the notable vitamins that we are all familiar with. Herbs are all natural, so they will not harm you. Many herbs can help you and they can be found in all sorts.

Herbs are used for many reasons, like teas that are used to cleanse are digestive systems or the overall help of the internal body.There are many other uses for herbs such as a supplement, for medicines and vitamins. Herbs have become quite popular in the use of many over-the-counter anti aging products, this causing an explosion of their use in hope of reversing wrinkles or other anti aging features.

One of the most popular herbs today is Kava- Kava. Kava is widely used in reducing anxiety. It has also become recognized as a relaxant and a sleep aid. Ginko Biloba is also another great herb that increases blood circulation. This herb will help with lungs to function properly, while distributing oxygen and increasing oxygen flow which in turn produces freedom of blood flowing to the brain. This has also led those to believe that Ginko helps those that are suffering from memory loss or forgetfulness. It has been known to help support healthy brain function and designed to enhance mental alertness.

Many people ask themselves, how do I know that herbs are safe for me to take? Herbs are all natural, so in most cases herbs are very good to take. Herbs rarely cause side effects like many other drugs sold, but some people have experienced side effects. But the cause of this rare happening has not yet been determined.

Another question some people may have that are not familiar with herbs, is where can I find more information about them? Now days you can find all sorts of herbs from your local Wal- mart to malls, herbal stores and drug stores and many other places. You can also find lot's of information and products online as well.

Just remember it is always important to talk with your family doctor before taking any herbs. Some medications work against herbs despite herbs coming from natural sources. This is why a visit too your doctor is always the wise thing to do before taking any herbs, over-the-counter meds or vitamins.

You should keep in mind though it is rare to find an FDA approved herbal supplement, if you do you may not experience side effects. But with that in mind though, the FDA, Government, Pharmaceutics and others try to keep some herbs out of this country, since they have been proven to cure certain diseases. So I think we can all figure out why this would be the case, money sometimes comes ahead of healthy people. For this you should decide for yourself to use at your own risk. Most importantly however, you want to consider the herbs and their purpose first.

about author :
I am An Internet Entrepreneur and Information Provider you can receive more information by visiting us at
http://consumersolutions360.com and http://webhealthshoppe.com/

Kelapa

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisio: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Arecales
Familia: Arecaceae
Genus: Cocos
Spesies: C. nucifera

Nama binomial
Cocos nucifera
L.



Kelapa adalah satu jenis tumbuhan dari keluarga Arecaceae. Ia adalah satu-satunya spesies dalam genus Cocos, dan pohonnya mencapai ketinggian 30 m. Kelapa juga adalah sebutan untuk buah pohon ini yang berkulit keras dan berdaging warna putih. Pohon kelapa biasanya tumbuh di pinggir pantai.

Pemanfaatan
GluguKelapa adalah pohon serba guna bagi masyarakat tropika. Hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan orang. Akar kelapa menginspirasi penemuan teknologi penyangga bangunan Cakar Ayam (dipakai misalnya pada Bandar Udara Soekarno Hatta) oleh Sedyatmo.

Batangnya, yang disebut glugu dipakai orang sebagai kayu dengan mutu menengah, dan dapat dipakai sebagai papan untuk rumah.

Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa, disebut janur, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakat Jawa dan Bali dalam berbagai upacara, dan menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (seni merangkai janur). Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan, disebut lidi, dihimpun menjadi satu menjadi sapu.

Tandan bunganya, yang disebut mayang (sebetulnya nama ini umum bagi semua bunga palma), dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan simbol tertentu. Bunga betinanya, disebut bluluk (bahasa Jawa), dapat dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira atau legèn (bhs. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi menjadi tuak.

Bagian dalam tempurung kelapa, memperlihatkan "daging" buah kelapaBuah kelapa adalah bagian paling bernilai ekonomi. Sabut, bagian mesokarp yang berupa serat-serat kasar, diperdagangkan sebagai bahan bakar, pengisi jok kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi anggrek. Tempurung atau batok, yang sebetulnya adalah bagian endokarp, dipakai sebagai bahan bakar, pengganti gayung, wadah minuman, dan bahan baku berbagai bentuk kerajinan tangan.

Es kelapa muda atau es deganEndosperma buah kelapa yang berupa cairan serta endapannya yang melekat di dinding dalam batok ("daging buah kelapa") adalah sumber penyegar populer. Daging buah muda berwarna putih dan lunak serta biasa disajikan sebagai es kelapa muda atau es degan. Cairan ini mengandung beraneka enzim dan memilki khasiat penetral racun dan efek penyegar/penenang. Beberapa kelapa bermutasi sehingga endapannya tidak melekat pada dinding batok melainkan tercampur dengan cairan endosperma. Mutasi ini disebut (kelapa) kopyor. Daging buah tua kelapa berwarna putih dan mengeras. Sarinya diperas dan cairannya dinamakan santan. Daging buah tua ini juga dapat diambil dan dikeringkan serta menjadi komoditi perdagangan bernilai, disebut kopra. Kopra adalah bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Cairan buah tua kelapa biasanya tidak menjadi bahan minuman penyegar dan merupakan limbah industri kopra. Namun demikian dapat dimanfaatkan lagi untuk dibuat menjadi bahan semacam jelly yang disebut nata de coco dan merupakan bahan campuran minuman penyegar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kelapa Tanaman berkhasiat obat

Kelapa adalah tanaman yang berkhasiat obat.
Kelapa hijau dipercaya berkhasiat sebagai hemostatik, antipiretik dan diuretik dan laksatif, dan dapat mengatasi berbagai penyakit seperti :

o bronchitis, demam, disentri, hepatitis, (akar) ;
o mencret, sakit perut, (arang tempurung);
o batuk darah, batu ginjal, cacing kremi, keracunan ikan, muntah darah dan pencahar daging buah);
o mencret, sakit perut dan bengkak (buah muda);
o nyeri pinggang, penawar racun, peradangan usus (air kelapa) dan
o perawatan rambut dan bahan pembawa ramuan luka bakar (minyak kelapa)
o obat kena racun makanan, frambusia, TBC (santan dan air buahnya),
o mencret, disentri,cholera, lemah syawat (akarnya),
o borok, demam nifas(bunganya),
o gigi rusak/berlubang, kencing nanah (minyak tempurungnya),
o wasir, adanya pengapuran pada air seni (daging buahnya).

Pengetahuan tradisional ini perlu dibuktikan dengan hasil analisa empirik dan saat ini telah diketahui dengan hasil analisa kandungan nutrisi dari kelapa yang banyak mengandung giziesensial. Daging buah kelapa muda misalnya, kaya akan kalori terutama dari karbohidrat. Protein kelapa, dibandingkan dengan kacang-kacangan, lebih baik dalam hal asam amino isoleusin, leusin, lisin, threonin dan valin.

Adapun analisa nilai nutrisi daging buah kelapa umur 8 bulan adalah kadar air 90,59%, kalori437 kkal/100 g, minyak 26,67%, protein 10,67%, serat kasar 3,98%, totalkarbohidrat 38,45%, pati 13,53%, gula sebagai glukosa 24,92%.


Sementara komposisi asam amino daging buah kelapa adalah isoleusin 2,5 g/16 g N, leusin 4,9 g/16 gN, lisin 2,7 g/16 g N, metionin 1,5 g/16 g N, threosin 2,3 g/16 g N, tripthopan0,6 g/16 g N dan valin 3,8 g/16 g. Mineral utama yang terdapat pada daging buah kelapa adalah Fe (17 ppm), S (4,4 ppm), Cu (3,2), P (2.4 ppm). Kandungan vitamin pada buah meliputi vitamin C (10 ppm), vitamin B(15 IU), dan vitamin E (2 ppm).

Minyak kelapa sangat mudah dicerna dan diabsorbsi tubuh karena mengandung trigliserida yang tersusun dari lemak rantai sedang (C6-C12). Komposisi asam lemak dalam minyak kelapa adalah C8 5-%, C10 6 - 10% dan C12 44 - 45% (total 55-65% asamlemak rantai sedang). Trigliserida asam lemak rantai sedang dapat digunakan untuk mengatasi hiperlipidemia dan kegemukan serta dapat digunakan dalam ransum untuk pasien pasca bedah dan bayi premature.

Daging buah kelapa juga mengandung 0,2 mg vitamin E (sebagai tokoferol), namun proses produksi minyak secara konvensional yang biasanya mengaplikasikan panas dan tekanan, mengurangi kandungan tokoferol dalam hasil akhir. Kandungan vitamin E optimum dapat diperoleh melalui perbaikan proses, yaitu dengan proses sentrifugasi santan dan produk yang dihasilkan dikenal dengan nama virgin oil. Virgin oil mempunyai aroma kelapa segar. Saat ini Virgin oil yang lebih dikenal dengan VCO (VirginCoconut Oil) diyakini manfaatnya untuk mengatasi penyakit kanker bahkan dianggap lebih ampuh dibandingkan dengan buah merah (Pandanus conoideus).

Air kelapa muda (7 - 8 bulan) mengandung protein 0,13 g, minyak 0,12 g, karbohidrat 4,11g, mineral Ca 20 mg, Fe 0,5 mg, vitamin asam askorbat 2,2 - 3,7 mg dan air95,01/ 100 g.

Dari berbagai sumber, http://www.tanaman-obat.com/

Medical Alert Alarms Help Save Lives

Medical alert alarms are systems designed to alert someone in the case of a medical emergency. The most common usage of these alert alarms are when someone has fallen or injured themselves in their homes and cannot reach or use the phone to call for assistance. That is where these medical alert alarms do the most good. It allows an individual who stays in their home alone to have the assurance that if something should happen where they were unable to access the phone, they could summon help by the press of a button. The press of a button would assure that emergency assistance would be on the way to help them. These alarms are usually used in the event of a medical emergency but are helpful no matter what type of emergency event.

The medical alert alarms are a way to help instill confidence in those that are staying by themselves. It allows them the ability to know that they are connected and safe in an environment that is looking out for their welfare yet still allows them their independence. There are many types of medical alert alarms available today.

Many will use wireless technology to utilize connections between a home base console and the button or pendant that is worn and pressed in case of emergency. The system is a simply-installed unit that will hook up through your phone line to enable the emergency calls, and a wireless link from the unit to the pendant. Once the pendant/button is pressed, it activates a response in the console so that it immediately starts to dial the emergency contact number or numbers you have programmed into it. Most consoles and stations will allow you to input more than one number and will dial consecutively until an answer is reached or the 911 personnel are called. Contact numbers can be local numbers or long distance numbers. This allows family members that live out of state to still be connected with the issues of their loved ones.

Medical alert alarms work only in so much that someone has accessibility to them. Many people get extra pendant/button alarms to keep around the house. The key strategy there is that it allows for back-up should you be caught without one. By having one for the night stand, the bathroom, kitchen, garage, or perhaps even one for the purse or car, allows extra peace of mind.

In addition to the extra alarm buttons, there can also be an alarm installed inside the house that is triggered to go off when the medical alert is sounded. This is an extra safety precaution that is useful particularly if there are others on the property or neighbors living close enough to help monitor situations. When the outlying person who receives the emergency call presses a key on their phone to confirm that emergency, the alarm is turned off so that the person in distress can be heard.

These medical alert alarms and their systems are not expensive to purchase nor are they expensive to use. Look for companies that do not charge monthly fees but instead offer their product, usually under $200, at a flat fee. This will reduce your costs in the long run.


--------------------------------------------------------------------------------
About the Author:
LifeLink is an emergency Medical Alert Alarm system designed for use by seniors or individuals with mobility, neurological disabilities or who are at risk for falls and medical emergencies. The system, which is purchased with a one-time fee, includes a wireless pendant and a Console that connects to an existing phone line. For details http://www.callforassistance.com
from http://www.articler.com/128840/Medical-Alert-Alarms-Help-Save-Lives.html

Bunga Wijaya Kusuma Mekar di Kudus

Flora

Kudus, Kompas - Sri Sulastri (56), penduduk Desa Kaliputu RT 06/RW 01, Kecamatan/Kabupaten Kudus, Sabtu (21/7) malam, menyaksikan keindahan bunga wijaya kusuma, yang dominan berwarna putih. Bunga diketahui mekar setelah beberapa tahun Sri memeliharanya dalam pot plastik.

Putik bunga ini lembut serta memancarkan aroma harum. Di bagian bawah tangkai yang berwarna kemerahan (pangkal bunga), beberapa helai bunganya berwarna putih strip kemerahan. "Saya bersama suami menunggui hingga tengah malam guna menyaksikan keindahan dan misteri kembang tersebut. Bahkan, sebelumnya banyak tetangga yang ramai-ramai menyaksikannya," tuturnya.

Sebenarnya, melihat sosok wijaya kusuma sekilas tidak ada yang menarik. Kalah jauh dengan adenium, euphorbia, gelombang cinta, dan sebagainya. Sebab, bunga ini berbatang kecil yang tidak lebih besar dari sebatang pensil. Daunnya sedikit keras, memanjang dari pangkal batang hingga pucuknya. Misteri

Tetapi, yang misterius (bagi orang awam tentunya), kemunculan bunganya selalu terjadi pada malam hari saja. Esok harinya sudah tidak lagi mekar dan berangsur-angsur layu akhirnya gugur. Ibaratnya, bagai sebuah payung yang terbuka di malam hari dan menutup kembali menjelang pagi.

Oleh karena hanya terjadi semalam dan bunga itu muncul tidak menentu (berbulan-bulan lamanya) serta hanya muncul sekuntum saja, maka harus ekstra waspada jika ingin menyaksikan mekarnya wijaya kusuma tersebut.

Mungkin karena itulah, teramat jarang penggemar bunga mau memelihara kembang wijaya kusuma. "Tetapi, bagi saya, inilah salah satu bukti betapa banyak karya Tuhan yang begitu indah, atau menikmati salah satu fenomena alam," tutur Sri Sulastri.

Mitos dari bunga wijaya kusuma ada dalam dunia pewayangan. Prabu Kresna mempunyai dua senjata utama, yaitu berupa busur dan panahnya yang bernama cakra dan kembang (bunga) wijaya kusuma. Kembang ini salah satu khasiatnya yang paling spektakuler mampu menghidupkan orang mati.

Bunga wijaya kusuma konon berasal dari Nusakambangan, Kabupaten Cilacap. Sampai sekarang masih ada sebagian masyarakat yang percaya terhadap berbagai macam khasiat bunga misterius ini. (SUP)
Sumber : kompas

Herb Gardening With Culinary Herbs, Ornamental Herbs and Medicinal Herbs

Herb gardening has been around for centuries and the joys of an herbal garden is well know to many gardeners. Even beginner gardeners can have a high quality of success by starting with the basics and working their way up to a more complicated herbal garden. You can plant a container herb garden or an indoor herb garden. There are three categories of herbs that can be grown in you herbal gardens, culinary herbs, ornamental herbs, or medicinal herbs.

Culinary herb gardening's purpose is to add spice and flavor to your cooking. Culinary herbs are the herbs that use fresh or dried leaves in cooking. Some of the classic culinary herbs are parsley, oregano, rosemary and basil. You may even want to plant some sage and thyme. There is a difference between herbs and spices. Spices are seeds, roots, fruits, flowers, and bark while, as mentioned above, culinary herbs are fresh or dried leaves.

When considering your culinary herb garden your most important decision is the location. You will need a sunny spot with at least six hours of sun. The more sun the herb garden gets the more flavor will develop in the herbs. Try to place your culinary herb garden as close to the kitchen door as possible. This will ensure that the herbs will be used daily.

A simple and delicious way to use basil is to slice some juicy ripe tomatoes and fresh mozzarella. Overlap them on a plate, sprinkle on some extra virgin olive oil and chopped basil. It is also good with a squeeze of fresh lemon. Anyone that has grown a culinary herb garden and used the fresh herbs will tell you that the fresh herbs are superior over the dried herbs.

Ornamental herb gardening can make your gardens not only practical but beautiful too. By "ornamental" we mean that the primary current usage is purely decorative. Some of these ornamental herbs have a long history of medicinal or culinary usage. Pots of ornamental herbs add color and texture to balconies or patios. They are perfect for lining your flower beds.

A good example of an ornamental herb is Dittany of Crete, a favorite oregano herb of many herb gardeners. It will form a low mound and produce leaves with fine silvery hairs. You would never want to use this in cooking, it is strictly for show.

Rue is another good choice for garden borders. Its unusual blue green color offers contrast to bright showy blooms. The rue leaves can be used as a garnish but because of its bitter flavor does not work in cooking.

Ornamental herbs are just what they say, ornaments for your gardens. Ornamental herb gardening will add texture and interest to your flower beds.

Now we come to medicinal herbs. Before the 1900's medicinal herbs were used widely in the United States. Somewhere in the 1960's herbs used as medicine dwindled. Now, many doctors are prescribing medicinal herbs as well as mainstream medicine.

There are three ways that the medicinal herbs work on the body. Medicinal herbs have been known to strengthen an organ so that it can heal itself. Some medicinal herbs purge the body of toxins and illness, while others build up the immune system which will help in retarding illness.

There are many ways to use medicinal herbs. A few are infusions, herb vinegars, ointments, teas and tinctures. For example, to make a healing herbal tea, boil water and pour over the fresh herbs in a cup. Let it steep for 5 minutes but no longer then 10 for it will get bitter.

The medicinal herb stevia can be used as a natural sweetener and is easy to grow in an herbal garden. It also decrease tooth decay and gum disease if used as a mouth wash.

Before starting any course of medicinal herbs, be sure to notify your Doctor to see if they will interact with any medicines you are currently taking.

These are some of the basics of the three herb groups. Plan your herb garden, pick a bright sunny place and plant your herbs. Remember you can plant an herb garden in the ground, as a container garden or an indoor herb garden.

Happy Gardening!

Copyright © Mary Hanna, All Rights Reserved.
About the AuthorMary Hanna is an aspiring herbalist who lives in Central Florida. This allows her to grow gardens inside and outside year round. She has published other articles on Cruising, Gardening and Cooking. Visit her websites at
http://www.CruiseTravelDirectory.com, http://www.ContainerGardeningSecrets.com, and http://www.GardeningHerb.com

Article Source:

Tanaman Obat Indonesia Wijaya kusuma

(Epiphyllum anguliger)
Sinonim :

Familia :
Cactaceae

Uraian :
Wijayakusuma (Epiphyllum anguliger) termasuk jenis kaktus, divisi anthophita, bangsa opuntiales dan kelas dicotiledoneae. Jenis kaktus terdapat sekitar 1.500 jenis (famili). Tanaman kaktus dapat hidup subur di daerah sedang sampai tropis. Demikian juga tanaman wijayakusuma. Bunga wijayakusuma hanya merekah beberapa saat saja dan tidak semua tanaman wijayakusuma dapat berbunga dengan mudah, tergantung dari iklim, kesuburan tanah dan cara pemeliharaan. Pada umumnya tanaman jenis kaktus sukar untuk ditentukan morfologinya, tetapi wijayakusuma dapat dilihat dengan jelas mana bagian daun dan mana bagian batangnya, setelah tanaman ini berumur tua. Batang pohon wijayakusuma sebenarnya terbentuk dari helaian daun yang mengeras dan mengecil. Helaian daunnya pipih, berwarna hijau dengan permukaan daun halus tidak berduri, lain halnya dengan kaktus-kaktus pada umumnya. Pada setiap tepian daun wijayakusuma terdapat lekukan-lekukan yang ditumbuhi tunas daun atau bunga . Wijayakusuma dapat tumbuh baik ditempat yang tidak terlalu panas.

Nama Lokal :
Wijayakusuma (Indonesia);

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Luka;

Pemanfaatan :
. Luka
Bahan: 1 helai daun wijayakusuma
Cara membuat: ditumbuk halus
Cara menggunakan: dioleskan pada luka, kemudian dibalut verban
Komposisi :
kandungan kimia : Tumbuhan wijayakusuma mempunyai daya ampuh untuk meredam rasa sakit dan mampu menetralisir pembekuan darah. Wijayakusuma juga memiliki daya yang dapat mempercepat masaknya luka abses. Komposisi kandungan kimia yang terdapat pada tumbuhan ini belum ada penelitian.

Sumber iptek.net.id

Epiphyllum anguliger

Scientific classification
Kingdom: Plantae
Division: Magnoliophyta
Class: Magnoliopsida
Order: Caryophyllales
Family: Cactaceae
Subfamily: Cactoideae
Tribe: Hylocereeae
Genus: Epiphyllum
Species: E. anguliger

Binomial name
Epiphyllum anguliger
(Lemaire) G. Don in Loudon (1855) Encycl. Pl. ed. 3, 1380

Synonyms
Phyllocactus anguliger Lemaire (1851) Jard. Fleur. 1, pl. 92
Phyllocactus serratus Brongnart in Labouret (1853) Monogr. Cact. 417
Phyllocactus angularis Labouret (1853) Monogr. Cact. 511 sphalm.
Phyllocactus darrahii K. Schumann (1903) Gesamtb. Kakteenk. Nachtr. 69
Epiphyllum darrahii (K. Schumann) Britton & Rose (1913) Contr. U. S. Nat. Herb. 16:256
Epiphyllum beahmii hort. nom. inval.
Epiphyllum gertrudianum hort. nom. inval..
Epiphyllum anguliger v. darrahii Ewald. nom inval..
Epiphyllum anguliger v. pillocarpa Ewald nom. inval.
Epiphyllum anguliger v. pulocarpa Ewald nom. nud.

Epiphyllum anguliger is a cactus species native to Mexico. The species is commonly grown as an ornamental for its beautiful, fragrant flowers in the fall.

Etymology
This species is named for its deeply toothed stems ("anguliger" = "angle bearing") which sometimes make a perfect rectangle.


History
This plant was first distributed by the Horticultural Society of London which obtained it from the collector, T. Hartweg, in 1846.

Origin and habitat
C & S Mexico (Jalisco, Nayarit, Colima, Guerrero and Matanego). Epiphytic in evergreen oak forests.

Systematics
A very variable species but rather distinct and recognition of subspecific taxa seems unnecessary. Most closely related to Epiphyllum crenatum and Epiphyllum laui.

Cultivation
An easily cultivated, fast growing epiphyte. Needs a compost containing plenty of humus and sufficient moisture in summer. Should be kept at 16-25ºC (61-77ºF), it may drop to 10-15ºC (50-59ºF) for shorter periods. Best grown in semi-shade. Flowers in late autumn or early winter.

Description
Stems profusely branched, primary stems terete at base, often woody, apical part and secondary stems flat and rather succulent, 20-30 cm long, 3-5 cm wide, deeply lobed, often to near midrib, the lobes rectangular to obtuse or rounded; areoles small nude or with 1-2 white bristles; epidermis green, smooth. Flowers 6-20 cm long, 6-7 cm wide, nocturnal, strongly sweet-scented *; pericarpel with podarium; receptacle 8-16 cm long, 4 mm thick, pale yellow, greenish or pinkish, bracteoles few, minute, linear and green, adpressed; outer tepals 10, linear to linear-lanceolate, acute, spreading or reflexed, 4-5 cm long, lemon yellow to brownish yellow; inner tepals lanceolate to ovate, acute or acuminate, white, sometimes toothed, as long as outer tepals; stamens in two rows, white, erect to subdeclinate, nearly as long as tepals; style longer than inner tepals, white; stigma lobes 8-11, linear. Fruit ovoid, brownish, greenish or yellowish, 3-4 cm thick.

Cultivars & hybrids
'El Tecolote' WC (REDC) 1997. E. anguliger x 'Bonanza Belle'. Inner tepals creamy white; outer tepals lemon yellow or golden bronze, similar to the species. Nocturnal, but stays open until noon the next day. Medium sized. Small, flat, deeply lobed stems.
'Jetz' WC (REDC) 1997. E. anguliger x 'Bonanza Bell'. Nocturnal fragrant flower with inner tepals cream, tips lemon yellow, acute and pencil line lemon yellow, ruffled margins, two next rows yellower, 4th and 5th rows solid lemon yellow; outer tepals bronze with yellow to red-orange midstripe. Overlapping wide form. Small plant with thick, flat stems, margins deeply lobed. (medium-large)
'What Luck'
WC (REDC) 1997. E. anguliger x 'Bonanza Belle'. Persimon orange, darker at edges, outer tepals rusty orange, overlapping, wide form. Style and stamens light orange. Flower medium sized. Stems small, flat, deeply lobed.

E. anguliger 'Beahmianum'
Collected by Thomas MacDougall in 1967, in Oaxaca, Mexico. Flowers white with a lavender-pink throat.

E. anguliger 'Gertrudianum'
Flowers shorter than in most clones, 6-7,5 cm long and 12 cm wide. Strong grower and a prolific bloomer.
From Wikipedia, the free encyclopedia

Cancer Causing Agents: Tobacco & Nicotine

Smoking is the single biggest cause of cancer in the world, and accounts for one in four cancer deaths in the States. Smoking is known to cause around eighty percent of lung cancer around the world. The 1996 National Household Survey on Drug Abuse has shown that about 62 million people in the United States above 12 years or below 29 percent of the population are current cigarette smokers. So, this makes nicotine, the addictive component of tobacco, one of the most heavily used addictive drugs in the United States. Within the United States, tobacco use was responsible for nearly 1 in 5 deaths or an estimated 438,000 premature deaths per year from 1997 to 2001 & thus, smoking kills five times more people than road accidents, overdoses, murder, suicides and HIV all put together.

Nicotine: Many people believe that nicotine causes cancer but the fact is that it only leads to addiction. Whenever a person inhales cigarette smoke, the nicotine present in the smoke is rapidly absorbed into the blood and its affect on the brain is shown within 7 seconds. In the brain, nicotine activates the same reward system as do other drug abuse such as cocaine or amphetamine, but to a lesser extent. Nicotine acts on this reward system and is believed to be responsible for drug-induced feelings of pleasure and, over time, nicotine addiction. It also increases alertness and enhances mental performance. Studies indicate that nicotine by itself may not be harmful. But, when it is combined with other harmful substances such as areca nut, cancer causing catechu substitutes like gambier & magnesium carbonate, it may show damaging effects.

Apart from nicotine, cigarette smoke contains around 4,000 different compounds, many of which may cause cancer. In fact tobacco smoke contains about 70 different carcinogens or cancer-causing substances. When you inhale smoke, these chemicals enter your lungs and spread around the rest of your body. Scientists have shown that these chemicals are mutagenic & can damage DNA and change expression of various genes which may lead to cancer by making your cells proliferate and multiply uncontrollably. No wonder, smoking is the major cause of lung cancer and is also associated with the increased risk for cancer of the mouth, nasal cavities (nose), larynx (voice box), pharynx (throat), esophagus (swallowing tube), stomach, liver, pancreas, kidney, bladder, uterine cervix, and acute myeloid leukemia.

Oral tobacco products contain 28 known cancer-causing agents (carcinogens). Chewing tobacco is a known cause of oral cancer & according to Women's Health in South East Asia (WHOSEA), almost one-half of all cancer cases in men and one-quarter of all cancer cases in women in India are believed to be tobacco-related.

Not all smokers get cancer: Years of research has proven that smoking causes cancer but this doesn’t mean that all smokers will definitely get cancer or that all non-smokers won’t. It means that smoking greatly increases the risk of cancer & Smokers are, on average, much more likely to get cancer than non-smokers

This Article is written by Tarun Gupta, the author of Health Information Articles. More information on the subject is at Cancer Causing Agents: Tobacco & Nicotine, and resources from other home health and wellness testing sources are used such as Second Hand Smoking Test.
Article Source: http://www.articlesbase.com/health-articles/cancer-causing-agents-tobacco-nicotine-371315.html

Backache - Backache Treatment, Herbs and Ayurvedic Remedies and Backache Symptom

Author: Tom alter

Backache is medically known as lumbago. It is the disease which afflicts any region of the vertebral column or the associated muscles. Each of the 32 vertebrae can develop sudden pains which could become a chronic condition. Though we use the term backache in general, actually it is a collection of various types of pains of the vertebral column.

People find these kinds of pains to be more common as they grow older. Though there are no gender specifics, lumbago may be a bit more in men than in women.


In Ayurveda, backache is called as Nithamba Shoola. Ayurveda treats this pain as a vata disorder, which causes both the types of weaknesses, i.e. the bone weakness and the muscle weakness. Hence when deciding on a proper treatment pattern for backache, one needs to consider the vitiation of the vata dosha.


Let us see some of the common treatment patterns used in Ayurveda for the treatment of lumbago.


(1) Useful Herbs in the Treatment of Backache


® Betel (Areca catechu)

Betel is one of the traditionally used herbs in the treatment of backache. The juice of the betel leaves is mixed with refined coconut oil. When this juice is applied on the loins, it provides relief from the sudden pains.


® Garlic (Allium sativum)

Among the many benefits that garlic has, an important one is relieving pains of lumbago. An extract of garlic provided to the patients provides relief from the pains without having any undesirable side effects.


® Indian Aloe (Aloe barbadensis)

The pulp of a single leaf of aloe consumed on a daily basis provides relief from backache problems.


® Lemon Grass (Cymbopogon citrates)

Lemon grass is mixed with twice its bulk of coconut oil and applied externally on the affected regions. This eases the pains.

(2) Dietary Treatment for Backache

Since backache is a condition caused due to vata vitiation, any food that can aggravate the vata further must not be taken. Sour and fried foods must be totally avoided. Even pulses must be eliminated from the diet. Rice must be reduced; rather food grains such as wheat, millet and sorghum are better.

(3) Ayurvedic Treatments for Backache


® The Ayurvedic preparation, Prasarani, is the drug that is most commonly used for the treatment of backache. Prasarani is Paederia foetida, which is a plant species. The method of use can be either external or internal. For better effects the oil of the plant is used. Massaging with this oil about two or three times a day provides immense relief from backache problems. Even if the pain subsides, the treatment must be continued for a month so that the pain does not recur.

® Other oils available for massaging the affected parts are the Narayana and the Mahanarayana oils. These oils must be used for fomentation or mixed in warm water to give a hot tub bath.

(4) Home Medications

® Mix equal proportions of limestone and honey. Apply this paste on the region where the pain is the severest.

® Grind some sesame seeds in water. Warm this solution and apply it repeatedly on the part where it pains the most.

® Put two teaspoonfuls of cumin seed powder in a glass of water and warm the solution. Soak a towel in this water and then use it to foment the affected parts. Relief should be obtained within a couple of hours.

® Roast about 100 grams of fenugreek seeds. Then grind them roughly and mix in them a quarter portion of rock salt. Put two teaspoonfuls of these in hot water every morning and evening and let the fumes come in contact with the region where the pain is persistent. This treatment provides relief in fifteen days.

® Take 1 gram of pure asafetida and mix it with egg yolk. Apply this paste on the affected spinal region. This is a quick method of getting relief from the pains, but it is a temporary method.

® Mix two or three pieces of cardamom in warm milk. Introduce about a pinch of turmeric in it. This is to be drunk every night before going to sleep. Immense relief will be obtained in the morning.

(5) Preventive Methods

® Instead of sleeping on a soft mattress at night, use a hard mattress. If you can, sleep on the ground with the back straight; that is, with the spine touching the ground as much as possible.

® Use ergonomic chairs in your workplace. See that the chair makes contact with the spine fully when you sit on it.

® Do not cramp yourself in one position. Shuffle your position often. When traveling, try to get up and move about whenever you can.

® Exercise often, but do not stretch your back. Perform gliding motions when exercising.

® Yogic asanas that can be used to prevent lumbago pains are:-

a) Bhujangasana

b) Halasana

c) Shalabhasana

d) Shavasana

e) Uttarapadasana

About the Author:

Read More on backache treatment by Ayurveda and backache Home Remedies.

Read more about Ayurveda at World's Largest Portal on Ayurveda and Ayurvedic Remedies.

Article Source: http://www.articlesbase.com/health-articles/backache-backache-treatment-herbs-and-ayurvedic-remedies-and-backache-symptom-106656.html

Hyperplasia Treatment

Himplasia relieves the basic symptoms of benign prostatic hyperplasia with reduction into prostate weight. Himplasia improves urinary flow rate though reducing post-void residual urine. Himplasia also inhibits the prostatic stromal proliferation. Himplasia is a non-hormonal herbal that support of male fertility which helps to maintain a healthy prostrate and an helpful reproductive function.

Most men over 40 years of age actually have an enlarged prostate gland. This condition is basically known as Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).

Symptoms include: Progressive urinary frequency and urgency, and night time awakening for urination, urinary hesitancy and intermittence, and also reduced force of urine. If left untreated, this will ultimately obstruct bladder outlet.

Benefits of Himplasia

• Himplasia helps to maintain a healthy prostate and reproductive function.
• Himplasia reduces the prostate weight and prostate volume.
• Himplasia also inhibits prostatic stromal proliferation.
• Himplasia maintains the normal urinary output.
• Himplasia promotes freer urinary flow.
• Himplasia improves the fertility.

Himplasia Ingredients (Per Tablet):

• Small caltrops / Gokshura / (Tribulus terrestris) 140mg
• Bonduc nut / Putikaranja / (Caesalpinia bonducella) 120mg
• Areca nut palm / Puga / (Areca catechu) 100mg
• Asparagus / Shatavari / (Asparagus racemosus) 80mg
• Three leaved caper / Varuna / (Cratavea nurvala) 80mg
• Processed agate / Akika pishti 80mg
Directions for taking Himplasia
1 or 2 tablets twice on a daily basis with meals.Allow numerous weeks for benefits. The use of natural products also provides progressive but long-lasting results.

Himplasia Side Effects:
Himplasia is not known to have any wide side effects if taken as per the prescribed dosage. Himplasia should be also used with caution in patients with hypertension.

Himplasia from Himalaya Herbals
Himplasia is from the renowned Himalaya Herbals brand approved by over 250,000 doctors worldwide and used by customers in over 60 countries. Himalaya Herbals products have been widely researched clinically and standardized to guarantee bioequivalence. Bioequivalence refers to ensuring that the product on the market is actually equivalent to the one on which clinical trials were effectively conducted. Himalaya Herbal Healthcare uses chromatographic fingerprinting, one of the most classy standardization techniques, to make sure consistent quality and performance
ABSTRACT

This was a almost double-blind placebo-controlled clinical trial, which in fact included 98 patients clinically diagnosed with various degrees of benign prostatic hyperplasia and also confirmed by pelvic ultrasonography along with uroflowmetry investigations. Himplasia was so administered as 1 tablet, two times daily for 6 months. All the patients were clinically examined each month for 6 months and we repeated ultrasonography and uroflowmetry after 6 months treatment. There was outstanding compliance with Himplasia. All 98 patients totally completed the treatment and no patient reported any side effects.

Himplasia considerably relieved the symptoms of BPH along with reduction in prostate size revealed by pelvic ultrasonography. Himplasia acts by dual mode of action taken by inhibition of 5-alpha reductase enzyme inhibition withlpha receptor blocking action. By this Himplasia overly controls the conversion of testosterone to dihydrotestosterone along with relaxation of prostatic smooth muscles. Himplasia may be consider as a therapy for patients with benign prostatic hyperplasia.

Spesifikasi Simplisia Dan Ekstrak Etanol Biji Pinang (Areca Catechu L)

Spesifikasi Simplisia Dan Ekstrak Etanol Biji Pinang (Areca Catechu L) Asal Tawangmangu Serta Toksisitas Akut Dan Khasiat Hemostatiknya Pada Hewan Coba
by Sa?roni dan Adjirni

Abstrak
Biji pinang (Areca catechu L) secara tradisional diantaranya digunakan untuk obat menghentikan cucur darah dan haid banyak mengeluarkan darah. Untuk membuktikan penggunaan tersebut perlu dilakukan penelitian apakah ekstrak biji pinang mempunyai khasiat hemostatik, yaitu dapat mempercepat waktu beku darah serta untuk mendapatkan gambaran toksisitasnya ditentukan harga LD50 nya. Sebelum penelitian dilakukan spesifikasi simplisia dan ekstrak total dari biji pinang.

Penelitian LD50 menurut cara Weil,C.S dengan menggunakan hewan mencit dan penelitian khasiat hemostatik menurut cara Lee-White dengan menggunakan hewan tikus putih. Penelitian khasiat hemostatik dilakukan pada 3 macam dosis ekstrak biji pinang yaitu 1,63 mg, 4,9 mg dan 16,3 mg/100 g.bobot badan tikus.

Spesifikasi simplisia biji pinang asal Tawangmangu berwarna coklat, rasa pahit, kadar abu 4,2%+ 0,1 kadar air 6,9%+ 0,27. Spesifikasi ekstrak etanol biji pinang berwarna coklat kemerahan rasa pahit, kental, mengandung kaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol dan antrakinon. Besar LD50 ekstrak etanol biji pinang 4,14 (3,31?5,18)mg/10g. bobot badan secara ip pada mencit. Ekstrak dosis 16,3mg/100g.bobot badan tikus mempunyai khasiat hemostatik yang tidak berbeda dengan transamin dosis 4,5mg/100g.bobot badan tikus.

Kata kunci : Areca catecu L; Toksisitas akut; Hemostatik
Sumber : Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Pinang Tanaman Obat Indonesia


Pinang
(Areca catechu L.)
Sinonim :
= A. hortensis, Lour.

Familia :

Arecaceae

Uraian :
Pinang umumnya ditanam di pekarangan, di taman-taman atau dibudidayakan, kadang tumbuh liar di tepi sungai dan tempat-tempat lain, dapat ditemukan dari 1-1.400 m dpl. Pohon berbatang langsing, tumbuh tegak, tinggi 10-30 m, diameter 15-20 cm, tidak bercabang dengan bekas daun yang lepas. Daun majemuk menyirip tumbuh berkumpul di ujung batang membentuk roset batang. Pelepah daun berbentuk tabung, panjang 80 cm, tangkai daun pendek. Panjang helaian daun 1-1,8 m, anak daun mempunyai panjang 85 cm, lebar 5 cm, dengan ujung sobek dan bergigi. Tongkol bunga dengan seludang panjang yang mudah rontok, keluar dari bawah roset daun, panjang sekitar 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap. Ada 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya banyak bunga jantan tersusun dalam 2 baris yang tertancap dalam alur. Bunga jantan panjang 4 mm, putih kuning, benang sari 6. Bunga betina panjang sekitar 1,5 cm, hijau, bakal buah beruang satu. Buahnya buah buni, bulat telur sungsang memanjang, panjang 3,5-7 cm, dinding buah berserabut, bila masak warnanya merah oranye. Biji satu, bentuknya seperti kerucut pendek dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan suatu lekukan dangkal, panjang 15-30 mm, permukaan luar berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk menyerupai jala dengan warna yang lebih muda. Umbutnya dimakan sebagai lalab atau acar, sedang buahnya merupakan salah satu ramuan untuk makan sirih, dan merupakan tanaman penghasil zat samak. Pelepah daun yang bahasa Sundanya disebut upih, digunakan untuk pembungkus makanan, bahan campuran untuk pembuatan topi, dsbnya. Perbanyakan dengan biji.

Nama Lokal :
Jambe, penang, wohan (Jawa). pineng, pineung, pinang,; Batang mayang, b. bongkah, b. pinang, pining, boni (Sumtra); Gahat, gehat, kahat, taan, pinang (Kalimanantan). alosi; mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo, amongon.(Sul.); Bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm (Maluku). bua, winu,;

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Cacingan, Perut kembung, Luka, Batuk berdahak, Diare, Kudis; Koreng, terlambat haid, keputihan, beri-beri, malaria, difteri; Tidak nafsu makan, Sembelit, Sakit pinggang, gigi dan gusi,;

Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIPAKAI: Biji, daun, sabut.

KEGUNAAN:
Biji (Binglang):
- Cacingan: taeniasis, fasciolopsiasis.
- Perut kembung akibat gangguan pencernaan.
- Bengkak karena retensi cairan (edema).
- Rasa penuh di dada.
- Luka.
- Batuk berdahak.
- Diare.
- Terlambat haid, Keputihan.
- Beri-beri, edema. Malaria.
- Memperkecil pupil mata (miosis) pada glaucoma.

Daun:
- Tidak napsu makan.
- Sakit pinggang (lumbago).

Sabut:
- Gangguan pencernaan (dyspepsia).
- Sembelit.
- Edema dan beri-beri.

PEMAKAIAN:
Untuk minum: 5-10 g biji kering atau 5-10 g sabut, rebus.
Pemakaian luar : Biji secukupnya direbus, airnya untuk mencuci luka dan infeksi kulit lainnya.

CARA PEMAKAIAN:
1. Cacingan:
30 g serbuk biji pinang direbus dengan 2 gelas air, didihkan
perlahan-lahan seiama 1 jam. Setelah dingin disaring, minum
sekaligus sebelum makan pagi.

2. Luka:

Biji ditumbuk halus, untuk dipakai pada luka.

3. Kudis:
Biji pinang digiling halus, tambahkan sedikit air kapur sirih sampai
menjadi adonan seperti bubur. Dipakai untuk memoles bagian tubuh
yang kudis.

4. Koreng:
Pinang, gambir, kapur sirih masing-masing sebesar telur cecak,
tembakau sebesar ibu jari dan 1 lembar daun sirih segar.
Bahan-bahan tersebut dicampur ialu digiling halus. Lumurkan pada
koreng yang telah dibersihkan.

5. Disentri:
Buah pinang yang warnanya kuning muda dicuci lalu direndam dalam
1 gelas air selama beberapa jam. Minum air rendaman pinang.

6. Membersihkan dan memperkuat gigi dan gusi:
Biji pinang diiris tipis-tipis. Kunyah setiap hari selama beberapa
menit, lalu ampasnya dibuang.

7. Sakit pinggang:
Daun secukupnya dicuci bersih, lalu digiling halus. Tambahkan
minyak kelapa secukupnya, panaskan sebentar di atas api. Hangat-
hangat dipakai untuk mengompres bagian pinggang yang sakit.

8. Difteri:
1 butir biji pinang kering digiling halus, seduh dengan 3/4 cangkir
air panas dan 1 sendok makan madu. Setelah dingin dipakai untuk
kumur-kumur di tenggorokan selama 2-3 menit, lalu dibuang.
Lakukan 3 kali sehari.

Efek samping:
Senyawa alkaloid yang dikandung pada buah cukup berbahaya untuk sistem syarat. Yang umum terjadi adalah mual dan muntah (20-30%), sakit perut, pening dan nervous. Untuk mengurangi kejadian muntah, minumlah rebusan obat setelah dingin. Efek samping yang jarang terjadi adalah luka pada lambung yang disertai muntah darah.
Tanda-tanda kelebihan dosis: Banyak keluar air liur (qalivation), muntah, mengantuk dan seizure.
Pengobalan: Cuci lambung dengan larutan potassium permanganate dan injeksi atropine. Untuk mengurangi efek racunnya, pemakaian biji pinang sebaiknya yang telah dikeringkan, atau lebih baik lagi bila biji pinang kering direbus dahulu sebelum diminum. Kebiasaan mengunyah biji pinang, dapat meningkatkan kejadian kanker-mukosa pipi (buccal cancer).

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Biji: Pahit, pedas, hangat. Obat cacing (anthelmintic), peluruh kentut (antiflatulent), peluruh haid, peluruh kencing (diuretik), peluruh dahak, memperbaiki pencernaan, pengelat (astringen), pencahar (laksan). Daun: Penambah napsu makan. Sabut: Hangat, pahit. Melancarkan sirkulasi tenaga, peluruh kencing, pencahar. KANDUNGAN KIMIA: Biji mengandung 0,3-0,6% alkaloid, seperti Arekolin (C8 H13 NO2), arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasine. Selain itu juga mengandung red tanin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung kira-kira 50% lebih banyak alkaloid, dibandingkan biji yang telah diproses. Arekolin: Obat cacing dan berkhasiat sebagai penenang.
sumber : iptek.net.id