Penelitian-penelitian mengenai Tanaman Obat Sambung nyawa

1.Klasifikasi tanaman
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Asterales (Campanulatae)
Suku : Asteraceae (Compositae)
Marga : Gynura
Jenis : Gynura procumbens (Lour.) Merr.
(Backer and Van den Brink Jr, 1965)

2. Morfologi tanaman
Tanaman G. procumbens berbentuk perdu tegak bila masih muda dan dapat merambat setelah cukup tua. Bila daunnya diremas bau aromatis. Batangnya segi empat beruas-ruas, panjang ruas dari pangkal sampai ke ujung semakin pendek, ruas berwarna hijau dengan bercak ungu. Daun tunggal bentuk elips memanjang atau bulat telur terbalik tersebar, tepi daun bertoreh dan berambut halus. Tangkai daun panjang ½-3 ½ cm, helaian daun panjang 3 ½-12 ½ cm, lebar 1- 5 ½ cm. Helaian daun bagian atas berwarna hijau dan bagian bawah berwarna hijau muda dan mengkilat. Kedua permukaan daun berambut pendek. Tulang daun menyirip dan menonjol pada permukaan daun bagian bawah. Pada tiap pangkal ruas terdapat tunas kecil berwarna hijau kekuningan. Tumbuhan ini mempunyai bunga bongkol, di dalam bongkol terdapat bunga tabung berwarna kuning oranye coklat kemerahan panjang 1-1 ½ cm, berbau tidak enak. Tiap tangkai daun dan helai daunnya mempunyai banyak sel kelenjar minyak (Perry, 1980; Van Steenis, 1975; Backer and Van den Brink, 1965; Sodoadisewoyo, 1953).

3. Nama daerah
Di Indonesia, tanaman ini memiliki beberapa nama daerah seperti; daun dewa (Melayu) (Heyne, 1987; Wijayakusuma et al., 1992), sambung nyawa dan ngokilo (Jawa) (Thomas, 1989).

4. Habitat dan penyebaran
Berasal dari daerah Afrika yang beriklim tropis menyebar ke Srilangka, Sumatera dan Jawa. Tumbuh liar di pekarangan, ladang atau ditanam orang untuk obat-obatan. Tumbuh sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut (Pramono, 1996).

5. Manfaat tanaman
Daun G. procumbens oleh sebagian masyarakat Indonesia digunakan sebagai obat kanker kandungan, payudara dan kanker darah dengan memakan 3 lembar daun segar sehari selama 7 hari. Pengobatan tersebut dapat diperpanjang selama 1-3 bulan tergantung dari keadaan penyakit (Meiyanto, 1996). Tumbuhan ini dilaporkan dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit ginjal (Heyne, 1987). Selain itu, G. procumbens juga dimanfaatkan sebagai antikoagulan, mencairkan pembekuan darah, stimulasi sirkulasi, menghentikan pendarahan, menghilangkan panas, membersihkan racun, khusus bagian daunnya dapat digunakan untuk mengobati pembengkakan payudara, infeksi kerongkongan, tidak datang haid, luka terpukul, melancarkan sirkulasi (Wijayakusuma et al., 1992). Manfaat lain dari bagian daun tanaman ini dilaporkan oleh Dalimartha (1999) dapat untuk mengatasi batu ginjal, radang mata, sakit gigi, rematik sendi, perdarahan kandungan, kencing manis (diabetes mellitus), darah tinggi (hipertensi), ganglion, kista, tumor, memar.

6. Kandungan kimia
Daun tanaman G. procumbens mengandung senyawa flavonoid, sterol tak jenuh, triterpen, polifenol dan minyak atsiri (Pramono and Sudarto, 1985). Hasil penelitian lain melaporkan bahwa tumbuhan ini mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin, steroid, triterpenoid, asam klorogenat, asam kafeat, asam vanilat, asam para kumarat, asam p-hidroksi benzoat (Suganda et al., 1988), asparaginase (Mulyadi, 1989). Sedangkan hasil analisis kualitatif dengan metode kromatografi lapis tipis yang dilakukan Sudarsono et al. (2002) mendeteksi adanya sterol, triterpen, senyawa fenolik, polifenol, dan minyak atsiri. Sugiyanto et al. (2003) juga menyatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa dalam fraksi polar etanol daun tanaman G. procumbens terdapat tiga flavonoid golongan flavon dan flavonol. Penelitian oleh Idrus (2003) menyebutkan bahwa G. procumbens mengandung sterols, glikosida sterol, quercetin, kaempferol-3-O-neohesperidosida, kaempferol-3-glukosida, quercetin-3-O-rhamnosyl(1-6)galaktosida, quercetin-3-O-rhamnosyl(1 -6)glukosida.

7. Penelitian-penelitian mengenai kemoprevensi G. procumbens
Pembuktian secara ilmiah mengenai khasiat tanaman ini melalui penelitian telah banyak dilakukan antara lain Sugiyanto et al. (1993), melaporkan adanya efek penghambatan karsinogenitas benzo(a)piren (BAP) oleh preparat tradisional tanaman G. procumbens, penelitian Meiyanto (1996) menyatakan bahwa ekstrak etanol daun G. procumbens (Lour.) Merr. mampu memberikan efek antimutagenik terhadap tumor paru mencit yang diakibatkan oleh BAP. Sifat antimutagenik ini juga dilaporkan oleh penelitian Sugiyanto et al. (2003), yaitu penghambatan mutasi pada Salmonella typhimurium. Secara in vitro, ekstrak etanol daun G. procumbens memiliki IC50 kurang dari 1000 ug/ml pada larva udang Artemia salina Leach (Meiyanto et al., 1997). Selain menghambat karsinogenitas pada kanker paru, G. procumbens juga diketahui mampu menghambat karsinogenitas kanker payudara. Pemberian post inisiasi ekstrak etanolik daun G. procumbens dosis 250 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB dapat mengurangi insidensi kanker payudara tikus yang diinduksi dengan dimetil benz(a)antrazena (DMBA), menurunkan rata-rata jumlah nodul tiap tikus (Meiyanto et al., 2004) serta secara kualitatif menurunkan ekspresi COX-2 (enzim yang berperan dalam angiogenesis). Penelitian Meiyanto dan Septisetyani (2005) menyatakan bahwa fraksi XIX-XX ESN memiliki efek sitotoksik terhadap sel kanker serviks, HeLa, dengan IC50 119 μg/ml. Fraksi tersebut juga menghambat proliferasi sel HeLa dan dapat menginduksi terjadinya apopotosis. Penelitian lebih jauh oleh Maryati (2006) menunjukkan flavonoid yang diisolasi dari fraksi etil asetat ekstrak etanolik daun G. procumbens memiliki aktivitas sitotoksik dengan IC50 sebesar 98 μg/ml terhadap sel T47D dan secara kualitatif meningkatkan ekspresi p53 dan Bax (regulator apoptosis). Hasil tersebut menguatkan hasil penelitian sebelumnya baik terhadap ekstrak etanolik maupun fraksi-fraksinya yang mengarahkan pada efek kemopreventif G. procumbens, baik sebagai blocking maupun suppressing. Ekstrak etanolik daun G. procumbens juga dilaporkan memiliki efek antiangiogenik (Jenie and Meiyanto, 2006), sehingga tanaman ini berpotensi sebagai antimetastasis, anti-invasi.

Daftar pustaka

Backer, C.A., dan Van Den Brink, R.C.B., 1965, Flora of Java (Spermatophytes Only), Vol II, N.V.P, 363-364, 424-425, Noordhoff-Groningen,The Netherlands.

Meiyanto, E., Sugiyanto, dan Sudarto, B., 1997, Uji Antikarsinogenik dan Antimutagenik Preparat Tradisional Daun Gynura procumbens (Lour.) Merr., Fakultas Farmasi UGM, Prosiding Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia XII, 32.

Perry, L.M., 1980, The Medical Plants of East and Southeast Asia: Attributed Properties and Uses, 94-95, The MIT Press, London.

Sudarsono, Gunawan, D., Wahyuono, S., Donatus, I.A., dan Purnomo, 2002, Tumbuhan Obat II, Hasil Penelitian, Sifat-sifat dan Penggunaan, 96-100, Pusat Studi Obat Tradisional, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Suganda, A., Sudiro, I., dan Ganthina, 1988. Skrining Fitokimia dan Asam Fenolat Daun Dewa (Gynura procumbens (Luor) Merr), Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III, Universitas Indonesia, Jakarta.

Sugiyanto, Sudarto, B., dan Meiyanto, E., 1993, Efek Penghambatan Karsinogenisitas Benzo(a)piren Oleh Preparat Tradisional Tanaman Gynura sp. Dan identifikasi Awal Senyawa yang Berkhasiat, Laporan Penelitian P4M DitJen DikTi, Fak. Farmasi UGM, Yogyakarta.

Sugiyanto, Sudarto, B., Meiyanto, E., Nugroho, A.E., dan Jenie, U.A., 2003, Aktivitas Antikarsinogenik Senyawa yang Berasal dari Tumbuhan, Majalah Farmasi Indonesia, 14 (4), 216-225.

Thomas, A.N.S., 1989, Tanaman Obat Tradisional, 120-121, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Kontributor: R.I. Jenie dan Endang Sulistyorini S.P
sumber : CCRC

Resep Tanaman Obat Sambung nyawa

Diabetes Melitus
Siapkan tujuh lembar daun sambung nyawa yang masih segar. Cuci dan bilas dengan air matang. Makan daun tadi sebagai lalap mentah bersama dengan nasi. Lakukan dua kali sehari masing-masing tujuh lembar daun.

Darah tinggi
Ambil tujuh lembar daun sambung nyawa. Cuci bersih kemudian dimakan sehari sekali sebagai lalapan. Bisa juga ditumis atau dikukus sebentar sebelum dimakan atau dibuat jus. Lakukan hal ini dengan rutin.

Radang pita tenggorokan dan sinusitis
Siapkan empat lembar daun sambung nyawa buat anak-anak atau tujuh lembar untuk dewasa. Cuci lalu dimakan mentah atau dinikmati dengan dibuat jus. Lakukan sehari sekali.

Tumor
Makan tiga lembar daun sambung nyawa segar sebagai lalapan setiap hari. Jangan lupa dicuci bersih. Lakukan secara teratur setiap kali makan nasi.
Pantangannya: ikan asin, cabai, tauge, tape, sawi putih, kangkung, nanas, durian, lengkeng, nangka es, alkohol, limun dan vetzin.

Lever
Gunakan tiga lembar daun sambung nyawa segar sebagai lalapan bersama nasi setiap hari. Lakukan secara teratur. Jangan lupa dicuci bersih. Hendaknya berpantang makanan berlemak.

Ambeien
Makan tiga lembar daun sambung nyawa segar sebagai lalapan. Lakukan setiap hari dan secara teratur. Jangan lupa dicuci bersih. Lakukan pantangan daging kambung dan makanan pedas.

Kolesterol tinggi
Gunakan tiga lembar daun sambung nyawa segar untuk dibuat jus atau dimakan sebagai lalapan. Lakukan setiap hari secara teratur.


Maag
Cuci bersih tiga lembar daun sambung nyawa mentah segar kemudian dimakan sebagai lalapan setiap hari. Lakukan secara teratur. Pantangan: makanan yang pedas dan asam.


Kena bisa ulat dan semut hitam

Selembar daun segar digosokkan pada bagian tubuh yang gatal hingga daun tersebut mengeluarkan iar dan hancur. Lakukan dua kali selama dua jam sekali.

Ambil 20 lembar daun. Cuci dan digiling halus, beri air garam seperlunya. Ramuan ini berguna untuk mengurap sebanyak gigitan/sengatan, lalu dibalut (1-2 kali sehari sebanyak yang diperlukan).

Eksim
Siapkan bahan berupa tujuh lembar daun sambung nyawa, asam 10 gr, rimpang temulawak 5 jari, gula jawa 20 gr, segenggam sambiloto. Rebus semua bahan dengan dua gelas air hingga mendidih dan tersisa hingga separuhnya. Kemudian saring dan diminum sekaligus. Ulangi setiap hari selama lima hari berturut-turut.

Bisul
Tumbuk beberapa lembar daun sambung nyawa, adas pulosari, dan kapur sirih hingga halus. Kemudian oleskan atau balurkan pada bisul.

Tetanus
Siapkan bahan berupa lima lembar daun sambung nyawa, asam tengguli 3 jari, rimpang kencur 2 jari, rimpang bangle setengah jari, daun sambung 10 lembar, gula enau 3 jari. Semua bahan dipotong-potong dan direbis dengan air sebanyak empat gelas hingga mendidih dan tersisa tiga gelas. Dinginkan dan saring, kemudian minum tiga kali sehari sebanyak satu gelas.

Sumber: CBN

Tanaman Obat Sambung Nyawa (Gynura procumbens (Lour.) Merr.)

Herba, berdaging. Batang memanjat, rebah, atau merayap, bersegi, gundul, berdaging, hijau keunguan, menahun. Daun berbentuk helaian daun, bentuk bulat telur, bulat telur memanjang, bulat memanjang, ukuran panjang 3,5 - 12,5 cm, lebar 1- 5,5 cm, ujung tumpul, runcing, meruncing pendek, pangkal membulat atau rompang. Tepi daun rata, bergelombang atau agak bergigi. Tangkai daun 0,5 cm sampai 1,5 cm. Permukaan daun kedua sisi gundul atau berambut halus. Perbungaan dengan susunan bunga majemuk cawan, 2- 7 cawan tersusun dalam susunan malai (panicula) sampai malai rata (corymb), setiap cawan mendukung 20-35 bunga, ukuran panjang 1,5- 2 cm, lebar 5-6 mm. Tangkai karangan dan tangkai bunga gundul atau berambut pendek, tangkai karangan 0,5- 0,7 cm. Brachtea involucralis dalam berbentuk garis berujung runcing atau tumpul, panjang 0,3 - 1 cm. Lebar 0,6 - 1,7 cm, gundul, ujung berwama hijau atau coklat kemerahan. Mahkota merupakan tipe tabung, panjang 1 - 1,5 cm, jingga kuningan atau jingga. Benang sari berbentuk jarum, kuning, kepala sari berlekatan menjadi satu. Buah berbentuk garis, panjang 4 - 5 mm, coklat. Daun mempunyai susunan dan fragmen yang sesuai dengan sifat anatomi keluarga tumbuhan bunga matahari (Asteraccae = Compositae). Waktu berbunga Januari - Desember. Di Jawa perbungaan jarang ditemukan. Tumbuhan ini banyak ditemukan di Jawa pada ketinggian 1 - 1200 m dpl, terutama tumbuh dengan baik pada ketinggian 500 m dpl. Banyak ditemukan tumbuh di selokan, semak belukar, hutan terang, dan padang rumput . Secara kultur jaringan, eksplan yang terbaik untuk penumbuhan kalus G. procumbens adalah tangkai daun yang ditaburkan. Media yang terbaik untuk penumbuhan kalus adalah media RTK yaitu media RT dengan air kelapa 10%. Pemberian kombinasi pupuk N dan P memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan hasil produksinya. Pemakaian BA 1 - 4 mg/l memberikan kondisi yang baik untuk multiplikasi tunas. Cara perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan menggunakan stek batang. Pertumbuhan batang dan daun cepat sehingga dapat segera dimanfaatkan. Tanaman akan tumbuh baik pada tempat ternaungi karena helaian daun lebih tipis dan lebar, sehingga lebih enak untuk dimakan segar.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Minyak atsiri daun Sambung nyawa yang diencerkan dengan etilasetat (1:6) dapat berefek positif menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, Namun E. coli tidak dihambat oleh minyak atsiri pada pengenceran yang sama secara in vitro. Pemberian ekstrak daun yang larut dalam etanol daun G. procumbens dengan dosis setara dengan 100 g dan 200 g tanaman per mencit, 2 kali seminggu selama 8 minggu, secara nyata menurunkan jumlah nodul tumor per paru, maupun prosentase mencit yang terkena tumor karena benzo(a) piren. Fraksi residu ekstrak daun G. Procumbens yang dilarutkan dalam etanol mempunyai aktivitas biologis terhadap sel vero dengan kadar hambat minimal 4026 µg/ml, terhadap sel mieloma dengan LC50 187 µg/ml. Sari daun yang larut dalam air dapat menurunkan kadar glukosa darah pada tikus normal Sambung nyawa mengandung asparaginase dengan aktivitas spesifik 0,0175 ? 0,0080. Waktu inkubasi untuk menentukan aktivitas asparaginase Sambung nyawa adalah 40 menit. Lamanya waktu inkubasi berpengaruh terhadap aktivitas asparaginase Sambung nyawa. Selain waktu inkubasi, pH mempengaruhi aktivitas asparaginase Sambung nyawa dan aktivitas tertinggi pada pH 8,6 yaitu 1,64? 0,232 g NH3 / menit / mg protein. Toksisitas Ekstrak daun G. Procumbens yang larut dalam etanol memiliki LC50
KEGUNAAN DI MASYARAKAT
Batang tanaman Sambung nyawa sering digunakan untuk menurunkan demam. Sambung nyawa juga digunakan dalam upaya penyembuhan penyakit ginjal, disentri, infeksi kerongkongan, di samping itu digunakan pada upaya menghentikan perdarahan, mengatasi tidak datang haid dan gigitan binatang berbisa.
Umbi untuk menghilangkan bekuan darah (haematom), pembengkakan, patah tulang, dan perdarahan setelah melahirkan.

CARA PEMAKAIAN DI MASYARAKAT
Untuk mengatasi gigitan ular / serangga digunakan daun dan umbi tumbuhan Sambung nyawa 1 batang, kunyit sebesar telur ayam 1 biji. Kunyit dikupas, dicuci kemudian ditumbuk bersama bahan lain hingga lembut. Tempelkan pada luka dan dibalut dengan air bersih.

Untuk mengatasi muntah darah / perdarahan rahim digunakan pohon Sambung nyawa dan umbinya 1 batang, kunyit 1 jari, kayu secang (tua) yang telah diserut 1/4 genggam. Kunyit dikupas, diiris tipis, kemudian direbus bersama bahan lainnya dengan air 2 gelas hingga tinggal 1 1/2 gelas. Angkat dan saring, diminum 2 kali sehari ½ gelas.

Untuk penyembuhan bisul digunakan daun Sambung nyawa segar 8 gram dicuci, ditumbuk sampai lumat. Kemudian ditempelkan pada bisul.

Komposisi :
Daun mengandung 4?senyawa flavonoid, tanin, saponin, steroid (triterpenoid) . Metabolit yang terdapat dalam ekstrak yang larut dalam etanol 95% antara lain asam klorogenat, asam kafeat, asam vanilat, asam p?kumarat, asam p?hidroksi benzoat. Hasil analisis kualitatif dengan metode kromatografi lapisan tipis dapat dideteksi keberadaan sterol, triterpen, senyawa fenolik (antara lain flavonoid), polifenol, dan minyak atsiri. Komponen minyak atsiri paling sedikit terdiri dari 6 senyawa monoterpen, 4 senyawa seskuiterpen, 2 macam senyawa dengan ikatan rangkap, 2 senyawa dengan gugus aldehida dan keton. Hasil penelitian dalam upaya isolasi flavonoid dilaporkan keberadaan 2 macam senyawa flavonoid yaitu bercak 1 terdiri dari 2 buah senyawa flavonol dan auron; sedangkan pada bercak 11 diduga kaemferol (suatu flavonol). Senyawa yang terkandung dalam etanol daun antara lain flavon / flavonol (3?hidroksi flavon) dengan gugus hidroksil pada posisi 4',7 dan 6 atau 8 dengan substitusi gugus 5?hidroksi. Bila senyawa tersebut suatu flavonol, maka gugus hidroksil pada posisi 3 dalam keadaan tersubstitusi. Di samping itu diduga keberadaan isoflavon dengan gugus hidroksil pada posisi 6 atau 7,8 (cincin A) tanpa gugus hidroksil pada cincin.

Sumber: Sentra Informasi IPTEK

Khasiat dari Tanaman Obat Mentha (Mint)

Nama lain Mint; Mentha arvensis, daun poko, Menthol, bujanggut, bijanggut, cora mint, bo he (china. )

Efek farmakologis :
astringent,
antipiretik,
carminative,
antispasmodika,
dapat mengobati ayan, karminatif, bronkitis, batuk, masuk angin, gangguan haid, radang lambung, diare, pusing, sesak napas, insomnia dan diaforetik.

Tanaman Obat Mentha (Mint)

Mentha arvensis

Mentha longifolia

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Lamiales
Famili: Lamiaceae
Genus: Mentha


Mentha (Mint) merupakan sebuah genus yang terbagi menjadi 25 spesies. Tanaman ini biasanya ditanam di Eropa, Asia, Afrika, Australia, dan Amerika Utara. Cocok digunakan sebagai daun mint, khususnya sebagai makanan, minuman, pasta gigi, permen karet, dan permen.

Spesies
Mentha aquatica – Water mint
Mentha arvensis – Corn Mint, Wild Mint, Japanese Peppermint, Field Mint
Mentha asiatica - Asian Mint
Mentha australis - Australian mint
Mentha canadensis
Mentha cervina - Hart's Pennyroyal
Mentha citrata – Bergamot mint
Mentha crispata - Wrinkled-leaf mint
Mentha cunninghamia
Mentha dahurica - Dahurian Thyme
Mentha diemenica - Slender mint
Mentha gattefossei
Mentha grandiflora
Mentha haplocalyx
Mentha japonica
Mentha kopetdaghensis
Mentha laxiflora - Forest mint
Mentha longifolia - Horse Mint
Mentha nemorosa - large apple mint, foxtail mint, hairy mint, woolly mint, Cuban mint
Mentha pulegium – Pennyroyal
Mentha requienii – Corsican mint
Mentha sachalinensis - Garden mint
Mentha satureioides - Native Pennyroyal
Mentha spicata – Spearmint, Curly mint
Mentha suaveolens – Apple mint, Pineapple mint
Mentha vagans - Gray mint

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
image : Michael Becker
Hak Cipta (C) 2000,2001,2002 Free Software Foundation, Inc.
51 Franklin St, Fifth Floor, Boston, MA 02110-1301 USA
Semua orang diperbolehkan untuk menyalin dan mendistribusikan
salinan sama persis dari dokumen lisensi ini, namun
tak diperkenankan untuk mengubahnya.

Resep Obat dari Tanaman Mengkudu (Noni)

Nama lain Mengkudu (Morinda citrifolia, Linn.) ; Pace, Kemudu, Kudu (Jawa); Cengkudu (Sunda), Kodhuk (Madura), Wengkudu (Bali);

Komposisi :
Buah buni tumbuhan mengkudu yang telah masak mempunyai aroma yang tidak sedap, namun mengandung sejumlah zat yang berkhasiat untuk pengobatan. Adapun kandungan zat tersebut antara lain morinda diol, morindone, morindin, damnacanthal, metil asetil, asam kapril dan sorandiyiol.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Hipertensi, Sakit kuning, Demam, Influenza, Batuk, Sakit perut; Menghilangkan sisik pada kaki;

1. Hipertensi
Bahan: 2 buah Mengkudu yang telah masak di pohon dan 1 sendok
makan madu.
Cara Membuat: buah mengkudu diperas untuk diambil airnya,
kemudian dicampur dengan madu sampai merata dan disaring.
Cara menggunakan: diminum dan diulangi 2 hari sekali.

2. Sakit Kuning
Bahan: 2 buah Mengkudu yang telah masak di pohon dan 1 potong
gula batu.
Cara Membuat: buah mengkudu diperas untuk diambil airnya,
kemudian dicampur dengan madu sampai merata dan disaring.
Cara menggunakan : diminum dan diulangi 2 hari sekali.

3. Demam (masuk angin dan infuenza)
Bahan: 1 buah Mengkudu dan 1 rimpang kencur;
Cara Membuat: kedua bahan tersebut direbus dengan 2 gelas air
sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring.
Cara menggunakan : diminum 2 kali 1 hari, pagi dan sore.

4. Batuk
Bahan: 1 buah Mengkudu dan ½ genggam daun poo (bujanggut) atau Mint ;
Cara Membuat: kedua bahan tersebut direbus dengan 2 gelas air
sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring.
Cara menggunakan : diminum 2 kali 1 hari, pagi dan sore.

5. Sakit Perut
Bahan: 2-3 daun Mengkudu
Cara Membuat: ditumbuk halus, ditambah garam dan diseduh air
panas.
Cara menggunakan: setelah dingin disaring dan diminum.

6. Menghilangkan sisik pada kaki
Bahan: buah Mengkudu yang sudah masak di pohon.
Cara menggunakan: bagian kaki yang bersiisik digosok dengan buah
mengkudu tersebut sampai merata, dan dibiarkan selama 5-10 menit,
kemudian dibersihkan dengan kain bersih yang dibasahi dengan air
hangat.


Sumber data : Sentra Informasi IPTEK
Image : Wilfredo R. Rodríguez H

"Liquid Island Noni," Dr. Neil Solomon

Dalam publikasinya yang berjudul "Liquid Island Noni," Dr. Neil Solomon mendokumentasikan hasil dari studi klinis yang melibatkan 8000 pasien yang telah diberi mengkudu dibawah pengawasan dokter medis.
Dokter-dokter ini memonitor kefektifan dari mengkudu dalam mengobati pada lebih 20 masalah kesehatan, dari arthritis sampai kanker. Dalam percobaan itu dilaporkan bahwa sebanyak 79% dari pasien mengalami kondisi membaik atau sembuh sebagai hasil setelah mengkonsumsi mengkudu. Sekarang lebih dari 5000 dokter di seluruh dunia menganjurkan pasiennya untuk mengkonsumsi pasien untuk penyembuhan.

Hasil Penelitian terhadap 8000 PASIEN
Kondisi Penyakit dan yang tertolong (%)
Kanker 67%
Sakit Jantung 80%
Stroke 58%
Diabetes, Tipe 1+2 83%
Lesu 91%
Peningkatan Daya Seksualitas 88%
Pembinaan Otot 71%
Kegemukan (obesity) 72%
Tekanan Darah Tinggi 87%
Perokok 58%
Arthritis 80%
Nyeri 87%
Depresi 77%
Alergi 85%
Masalah Pencernaan 89%
Masalah Pernafasan 78%
Masalah Tidur 72%
Lemah Konsentrasi 89%
Peningkatan perasaan sehat fisik & fikiran 79%
Peningkatan kecerdasan dan kecerdasan berfikir 73%
Masalah buah pinggang (ginjal) 66%
Stress 71%

Penggunaan Noni juga dapat bersamaan dengan pengobatan lain karena tidak ditemukannya interaksi negatif. Bahkan pada beberapa kasus Noni dapat membantu kerja obat lain menjadi lebih efektif.

Noni dilaporkan juga aman untuk ibu hamil dan menyusui.

Kondisi tertolong bagi orang yang mengambil Noni (n=>8000)
Tabel di atas disadur dari buku NATURE'S AMAZING HEALER, NONI ditulis oleh NEIL SOLOMON, MD., Ph.D. hal. 46.

Herb Plant Noni (Morinda citrifolia)

Morinda citrifolia, commonly known as great morinda, Indian mulberry, beach mulberry, Tahitian noni, cheese fruit[1] or noni (from Hawaiian) is a tree in the family Rubiaceae. Morinda citrifolia is native to Southeast Asia but has been extensively spread throughout the Indian subcontinent, Pacific islands, French Polynesia, and recently the Dominican Republic. Tahiti remains the most prominent growing location.

Growing habitats
Noni grows in shady forests as well as on open rocky or sandy shores. It reaches maturity in about 18 months and then yields between 4-8 kg of fruit every month throughout the year. It is tolerant of saline soils, drought conditions, and secondary soils. It is therefore found in a wide variety of habitats: volcanic terrains, lava-strewn coasts, and clearings or limestone outcrops. It can grow up to 9 m tall, and has large, simple, dark green, shiny and deeply veined leaves.
The plant flowers and fruits all year round and produces a small white flower. The fruit is a multiple fruit that has a pungent odor when ripening, and is hence also known as cheese fruit or even vomit fruit. It is oval and reaches 4-7 cm in size. At first green, the fruit turns yellow then almost white as it ripens. It contains many seeds. It is sometimes called starvation fruit. Despite its strong smell and bitter taste, the fruit is nevertheless eaten as a famine food[2] and, in some Pacific islands, even a staple food, either raw or cooked.[3] Southeast Asians and Australian Aborigines consume the fruit raw with salt or cook it with curry. The seeds are edible when roasted.

The noni is especially attractive to weaver ants, which make nests out of the leaves of the tree. These ants protect the plant from some plant-parasitic insects. The smell of the fruit also attracts fruit bats, which aid in dispersing the seeds.

Nutrients
Nutritional information for noni fruit is reported by the College of Tropical Agriculture, University of Hawaii at Mānoa who published analyses of fruit powder and pure juice.

Macronutrients
Analyzed as a whole fruit powder,[4] noni fruit has excellent levels of carbohydrates and dietary fiber, providing 55% and 100% of the Dietary Reference Intakes (DRI), respectively, in a 100 g serving. A good source of protein (12% DRI), noni pulp is low in total fats (4% DRI).

These macronutrients evidently reside in the fruit pulp, as noni juice has sparse amounts of macronutrients.[5]

Micronutrients
The main micronutrient features of noni pulp powder include exceptional vitamin C content (10x DRI) and substantial amounts of niacin (vitamin B3), iron and potassium.[6] Vitamin A, calcium and sodium are present in moderate amounts.

When noni juice alone is analyzed and compared to pulp powder, only vitamin C is retained at a high level, 42% of DRI.[6]

Nutrient analyses for a major brand of noni juice (Tahitian Noni Juice, TNJ) were published in 2002 by the Scientific Committee on Food of the European Commission on Health and Consumer Protection[7] during a test for public safety of TNJ. TNJ ingredients include noni purée and juice concentrates from grapes and blueberries.

Excepting vitamin C content at 31% of DRI in each 100g, TNJ has limited nutritional content. 100g of juice provides 8% of the DRI for carbohydrates, only traces of other macronutrients and low or trace levels of 10 essential vitamins, 7 essential dietary minerals and 18 amino acids.[6]

Although the most significant nutrient feature of noni pulp powder or juice is its high vitamin C content, this level in TNJ provides only about half the vitamin C of a raw navel orange.[8] Sodium levels in TNJ (about 3% of DRI)[6] are multiples of those in an orange. Although the potassium content appears relatively high for noni, this total is only about 3% of the Recommended Dietary Allowance and so would not be considered excessive. TNJ is otherwise similar in micronutrient content to a raw orange.[8]

Phytochemicals
The history of published medical research on noni phytochemicals numbers only around a total of 110 reports which began appearing in the 1950s (searched in September 2008). Just since 2000, over 100 publications on noni have been published in medical literature, defining a relatively young research field. Noni research is at a preliminary stage, as it is mainly still in the laboratory as in vitro or basic animal experiments.

Noni fruit contains phytochemicals for which there are no established DRI values. Examples:

lignans - a group of phytoestrogens having biological activities shown by in vitro experiments[9][10][11]
oligo- and polysaccharides – long-chain sugar molecules that serve a prebiotic function as dietary fiber fermentable by colonic bacteria, yielding short chain fatty acids with numerous potential health properties not yet defined by scientific research on noni
flavonoids – phenolic compounds such as rutin and asperulosidic acid, common in several Rubiaceae plants
iridoids - secondary metabolites found in many plants
trisaccharide fatty acid esters, "noniosides" - resulting from combination of an alcohol and an acid in noni fruit
free fatty acids - most prominent in noni fruit are caprylic acid and hexanoic acid, responsible for unique pungent (cheese-like) aroma of ripe noni fruit[12]
scopoletin – may have antibiotic activities; research is preliminary
catechin and epicatechin[13]
beta-sitosterol – a plant sterol with potential for anti-cholesterol activity not yet proven in human research
damnacanthal – a potentially toxic anthraquinone, putatively an inhibitor of HIV viral proteins
alkaloids – naturally occurring amines from plants. Some internet references mention xeronine or proxeronine as important noni constituents. However, as no reports on either of these substances exist in published medical literature, the terms are scientifically unrecognized. Further, chemical analysis of commercially processed juice did not reveal presence of any alkaloids.[14]
Although there is evidence from in vitro studies and laboratory models for bioactivity of each of the above phytochemicals, the research remains at best preliminary and too early to conclude anything about human health benefits provided by noni or its juice. Furthermore, these phytochemicals are not unique to noni, as nearly all exist in various plant foods.

Laboratory experiments demonstrated that dietary noni juice increased physical endurance in mice.[15] A pilot study in distance runners showed increased endurance capacity following daily intake of noni juice over three weeks, an effect the authors attributed to increased antioxidant status.[16]

Uses
Although noni's reputation for uses in folk medicine extends over centuries,[17] no medical applications as those discussed below have been verified by modern science.

In China, Samoa, Japan, and Tahiti, various parts of the tree (leaves, flowers, fruits, bark, roots) serve as tonics and to contain fever, to treat eye and skin problems, gum and throat problems as well as constipation, stomach pain, or respiratory difficulties.[citation needed] In Malaysia, heated noni leaves applied to the chest are believed to relieve coughs, nausea, or colic.[citation needed]

The noni fruit is taken, in Indochina especially, for asthma, lumbago, and dysentery.[citation needed] As for external uses, unripe fruits can be pounded, then mixed with salt and applied to cut or broken bones.[citation needed] In Hawaii, ripe fruits are applied to draw out pus from an infected boil. The green fruit, leaves and the root/rhizome have traditionally been used to treat menstrual cramps and irregularities, among other symptoms, while the root has also been used to treat urinary difficulties.[17]

The bark of the great morinda produces a brownish-purplish dye for batik making; on the Indonesian island of Java, the trees are cultivated for this purpose. In Hawaii, yellowish dye is extracted from its root in order to dye cloth.[18] The fruit is used as a shampoo in Malaysia, where it is said to be helpful against head lice.[citation needed]

There have been recent applications also for the use of oil from noni seeds.[citation needed] Noni seed oil is abundant in linoleic acid that may have useful properties when applied topically on skin, e.g., anti-inflammation, acne reduction, moisture retention.[19][20][21]

In Surinam and some other countries, the tree serves as a wind-break, as support for vines and as shade for coffee trees.

From Wikipedia, the free encyclopedia
image by Wilfredo Rodríguez
Copyright (C) 2000,2001,2002 Free Software Foundation, Inc.
51 Franklin St, Fifth Floor, Boston, MA 02110-1301 USA
Everyone is permitted to copy and distribute verbatim copies
of this license document, but changing it is not allowed.

Mengkudu (Morinda citrifolia)

Tanaman Obat Mengkudu
Klasifikasi ilmiah
Regnum:
Plantae
Divisio: Magnoliophyta
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Gentianales
Familia:
Rubiaceae
Genus:
Morinda
Spesies: M. citrifolia
Nama binomial
Morinda citrifolia

Mengkudu (pace, kemudu, kudu (Jawa); cengkudu (Sunda), kodhuk (Madura), wengkudu (Bali) berasal daerah Asia Tenggara, tergolong dalam famili Rubiaceae. Nama lain untuk tanaman ini adalah Noni (bahasa Hawaii), Nono (bahasa Tahiti), Nonu (bahasa Tonga), ungcoikan (bahasa Myanmar) dan Ach (bahasa Hindi),

Tanaman ini tumbuh di dataran rendah pada ketinggian 1500 m. Tinggi pohon mengkudu mencapai 3-8 m, memiliki bunga bongkol berwarna putih. Buahnya berwarna hijau mengkilap dan memiliki totol-totol.

Mengkudu sering digunakan sebagai bahan obat-obatan.

A. ASAL USUL MENGKUDU
Asal usul mengkudu tidak terlepas dengan keberadaan bangsa polinesia yang menetap di kepulauan Samudra Pasifik. Bangsa Polinesia dipercaya berasal dari Asia Tenggara. Pada tahun 100 SM, bangsa yang terkenal berani ini mengembara.tanpa sebab yang jelas mereka menyeberangi lautan meninggalkan tanah air mereka. Ada kesan para pengembara itu di kecewakan oleh suatu hal dan maksud menjauhkan diri dari kehidupan sebelumnya. Setelah lama mengembara, mereka sampai di sekitar Polinesia, yaitu kepulauan di sekitar Pasifik Selatan. Para petualang tersebut langsung jatuh hati saat melihat indahnya pemandangan, kondisi pantai, dan pulaunya. Uniknya, mereka seakan telah mempersiapkan diri untuk berpindah ke pulau lain. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya sejumlah tumbuhan dan hewan yang ikut dibawa, karena dianggap penting untuk mempertahankan hidup. Beberapa tumbuhan asli, seperti pisang, talas, ubi jalar, sukun, tebu, dan mengkudu, dibawanya.di antara yang dibawa itu, masih ada yang berupa stek dan tunas. Salah satu tumbuhan itu, yakni mengkudu, dianggap barang keramat. Sejak 1500 tahun lalu penduduk kepulauan yang kini disebut hawaii itu mengenal mengkudu dengan sebutan noni. Mereka menduga tumbuhan bernama latin Morinda citrifolia tersebut memiliki banyak manfaat. Mereka memandangnya sebagai Hawaii magic plant, karena buah ini dipercaya bisa mengobati berbagai macam penyakit.

B. CIRI-CIRI UMUM MENGKUDU ==
a. Pohon. Pohon mengkudu tidak begitu besar, tingginya antara 4-6 m. batang bengkok-bengkok, berdahan kaku, kasar, dan memiliki akar tunggang yang tertancap dalam. Kulit batang cokelat keabu-abuan atau cokelat kekuning-kuniangan, berbelah dangkal, tidak berbulu,anak cabangnya bersegai empat. Tajuknya suklalu hijau sepanjang tahun. Kayu mengkudu mudah sekali dibelah setelah dikeringkan. Bisa digunakan untuk penopang tanaman lada.

b. Berdaun tebal mengkilap. Daunmengkudu terletak berhadap-hadapan. Ukuran daun besar-besar, tebal, dan tunggal. Bentuknya jorong-lanset, berukuran 15-50 x 5-17 cm. tepi daun rata, ujung lancip pendek. Pangkal daun berbentuk pasak. Urat daun menyirip. Warna hiaju mengkilap, tidak berbulu. Pangkal daun pendek, berukuran 0,5-2,5 cm. ukuran daun penumpu bervariasi, berbentuk segi tiga lebar. Daun mengkudu dapat dimakan sebagai sayuran. Nialai gizi tinggi karena banyak mengandung vitamin A.

c. Bunga harum. Perbungaan mengkudu bertipe bonggol bulat, bergagang 1-4 cm. Bunga tumbuh di ketiak daun penumpu yang berhadapan dengan daun yang tumbuh normal. Bunganya berkelamin dua. Mahkota bunga putih, berbentuk corong, panjangnya bisa mencapai 1,5 cm. Benang sari tertancap di mulut mahkota. Kepala putik berputing dua. Bunga itu mekar dari kelopak berbentuk seperti tandan. Bunganya putih, harum.

d. Buah batu. Kelopak bunga tumbuh menjadi buah bulat lonjong sebesar telur ayam bahkan ada yang berdiameter 7,5-10 cm. Permukaan buah seperti terbagi dalam sel-sel poligonal (segi banyak) yang berbintik-bintik dan berkutil. Mula-mula buah berwarna hijau, menjelang masak menjadi putih kekuningan. Setelah matang, warnanya putih transparan dan lunak. Daging buah tersusun dari buah-buah batu berbentuk piramida, berwarna cokelat merah. Setelah lunak, daging buah mengkudu banyak mengandung air yang aromanya seperti keju busuk. Bau itu timbul karena pencampuran antara asam kaprik dan asam kaproat (senyawa lipid atau lemak yang gugusan molekulnya mudah menguap, menjadi bersifat seperti minyak atsiri) yang berbau tengik dan asam kaprilat yang rasanya tidak enak. Diduga kedua senyawa ini bersifat aktif sebagai antibiotik.

C. KANDUNGAN MENGKUDU
a. Zat nutrisi. Secara keseluruhan mengkudu merupakan buah makanan bergizi lengkap. Zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh, seperti protein, viamin, dan mineral penting, tersedia dalm jumlah cukup pada buah dan daun mengkudu. Selenium, salah satu mineral yang terdapat pada mengkudu merupakan antioksidan yang hebat. Berbagai jenis senyawa yang terkandung dalam mengkudu : xeronine, plant sterois,alizarin, lycine, sosium, caprylic acid, arginine, proxeronine, antra quinines, trace elemens, phenylalanine, magnesium, dll.

b.Terpenoid. Zat ini membantu dalam proses sintesis organic dan pemulihan sel-sel tubuh.

c.Zat anti bakteri. Zat-zat aktif yang terkandung dalam sari buah mengkudu itu dapat mematikan bakteri penyebab infeksi, seperti Pseudomonas aeruginosa, Protens morganii, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Escherichia coli. Zat anti bakteri itu juga dapat mengontrol bakteri pathogen (mematikan) seperti Salmonella montivideo, S . scotmuelleri, S . typhi, dan Shigella dusenteriae, S . flexnerii, S . pradysenteriae, serta Staphylococcus aureus.

d.Scolopetin. Senyawa scolopetin sangat efektif sebagi unsur anti peradangan dan anti-alergi.

e.Zat anti kanker. Zat-zat anti kanker yang terdapat pada mengkudu paling efektif melawan sel-sel abnormal.

f.Xeronine dan Proxeronine. Salah satu alkaloid penting yang terdapt di dalam buah mengkudu adalah xeronine. Buah mengkudu hanya mengandung sedikit xeronine, tapi banyak mengandung bahan pembentuk (precursor) xeronine alias proxeronine dalam jumlah besar. Proxeronine adalah sejenis asam nukleat seperti koloid-koloid lainnya. Xeronine diserap sel-sel tubuh untuk mengaktifkan protein-protein yang tidak aktif, mengatur struktur dan bentuk sel yang aktif.

Literatur yang di gunakan:
Bangun, A. P.,DR, MHA dan Saworno, B.,Khasiat dan Manfaat Mengkudu, Jakarta: Agromedia Pustaka, 2002
Sumber : wikipedia.org
Hak Cipta (C) 2000,2001,2002 Free Software Foundation, Inc.
51 Franklin St, Fifth Floor, Boston, MA 02110-1301 USA
Semua orang diperbolehkan untuk menyalin dan mendistribusikan
salinan sama persis dari dokumen lisensi ini, namun
tak diperkenankan untuk mengubahnya

The Effect of Aquoeus Extract of Pegagan Leaves (Centella asiatica L.) on Cognition and the Level of Monoamine Neurotransmitters in the Hippocampus of Old Male Rats (Rattus norvegicus L.)

Annisa Rahmah Furqaani
School of Life Sciences and Technology, ITB

Lulu Lusianti Fitri
School of Life Sciences and Technology, ITB

Mariana Rahmasari
School of Life Sciences and Technology, ITB

Summary
Pegagan (Centella asiatica) has been scientifically proven influence the central nervous system (CNS), particularly in improving energy stimulation to brain nerves as well as to enhance learning and memory process. The aim of the research was to investigate the effect of aqueous extract of C. asiatica leaves on cognition and the level of monoamines (dopamine, norepinephrine, epinephrine, dan serotonine) in the hippocampus of old male wistar rats (Rattus norvegicus L.). Fifty old male wistar rats (16 weeks in age, body weight range 250-300 g, x = 289.394 ? 2.266 g) were divided into five group which consisted of ten individual in each group. Two control groups were established (one group of control blank, CB; and a group received only aquabidest, CS), and three treatment groups received aqueous extract of C. asiatica leaves with doses of 100 (T1), 200 (T2) and 300 (T3) mg / kg body weight. The aqueous extract of C. asiatica leaves were given by oral injection during eight weeks and at the same time the cognition tests using water-E maze were done once a week. By the end of examination, rats were decapitated and the brain?s hippocampus were isolated in order to measure the level of monoamines using High Performance Liquid Chromatography. Results showed that the treatment groups were significantly quicker to reach the target and had fewer errors to reach the goal in the water-E maze compared to the control group (P<0,05). size="2">
Keywords: Centella asiatica, monoamine neurotransmitters, water-E maze, learning process, memory, Rattus norvegicus

Hasil Penelitian Daun Pegagan (Antanan)

Pengaruh Ekstrak Air Daun Pegagan (Centella asiatica L.) Terhadap Kemampuan Kognitif Dan Kadar Neurotransmiter MonoAmin.

Annisa R. F.
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)-ITB

Ringkasan :
Pegagan (Centella asiatica) telah diketahui mampu mempengaruhi sistem saraf pusat, meningkatkan daya rangsang saraf otak, serta meningkatkan kemampuan belajar dan mengingat (Kumar & Gupta, 2002; Rao et al., 2005). Untuk menguji kemampuan C. asiatica lebih lanjut maka dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak air daun C. asiatica terhadap kemampuan kognitif (terutama uji kemampuan belajar dan mengingat) dan kadar neurotransmiter monoamin (dopamin, norepinefrin, epinefrin, dan serotonin) pada hipokampus tikus (Rattus norvegicus L.) Wistar jantan dewasa. Penelitian ini dilakukan pada lima puluh ekor tikus berumur 16 minggu, dengan berat badan rata-rata 289,39 ± 2,27 g (berkisar antara 250-300 g). Seluruh tikus dibagi rnenjadi lima kelompok (setiap kelompok terdiri dari sepuluh individu), yaitu kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan apapun (KN), kelompok kontrol yang diberi perlakuan dengan pelarut akuabides (KP), serta tiga kelompok perlakuan ekstrak air daun C. asiatica masing-masing dengan dosis 100 mg/kg bb (PI), dosis 200 mg/kg bb (P2), dan dosis 300 mg/kg bb (P3). Pemberian ekstrak air daun C. asiatica terhadap tikus dilakukan secara oral selama delapan minggu dan uji kognitif dengan perangkat Water-E Maze dilakukan sekali setiap minggu.

Untuk mengetahui terjadinya proses belajar dan mengingat, maka pada akhir pengujian seluruh tikus didekapitasi dan hipokampus diisolasi untuk dilakukan pengukuran kadar neurotransmitter monoamin dengan menggunakan HPLC (High Performance Liquid Chromatography). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok perlakuan lebih cepat dalam mencapai sasaran dan melakukan lebih sedikit kesalahan dalam menyelesaikan uji Water-E Maze dibandingkan dengan kelompok kontrol secara nyata (P<0.05).>efek antistress, juga berperan dalam proses potensiasi jangka panjang (LTP), pembentukan memori jangka panjang (LTM) serta meningkatkan kemampuan belajar. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak air daun C. asiatica dapat meningkatkan kemampuan kognitif tikus dengan mempengaruhi modulasi neurotransmiter monoamin pada hipokampus tikus.

Effect of Centella asiatica on cognition and oxidative stress in an intracerebroventricular streptozotocin model of Alzheimer's disease in rats

Veerendra Kumar MH, Gupta YK.
Neuropharmacology Laboratory, Department of Pharmacology, All India Institute of Medical Sciences, Ansari Nagar, New Delhi, India.

Summary:
1. Centella asiatica, an Indian medicinal plant, has been described as possessing central nervous system activity, such as improving intelligence. In addition, we have demonstrated that C. asiatica has cognitive-enhancing and anti-oxidant properties in normal rats. Oxidative stress or an impaired endogenous anti-oxidant mechanism is an important factor that has been implicated in Alzheimer's disease (AD) and cognitive deficits seen in the elderly.

2. Intracerebroventricular (i.c.v.) streptozotocin (STZ) in rats has been likened to sporadic AD in humans and the cognitive impairment is associated with free radical generation in this model. Therefore, in the present study, the effect of an aqueous extract of C. asiatica (100, 200 and 300 mg/kg for 21 days) was evaluated in i.c.v. STZ-induced cognitive impairment and oxidative stress in rats.

3. Male Wistar rats were injected with STZ (3 mg/kg, i.c.v.) bilaterally on the days 1 and 3. Cognitive behaviour was assessed using passive avoidance and elevated plus-maze paradigms on the days 13, 14 and 21. Rats were killed on the day 21 for estimation of oxidative stress parameters (malondialdehyde (MDA), glutathione, superoxide dismutase and catalase) in the whole brain upon completion of the behavioural task.

4. Rats treated with C. asiatica showed a dose-dependent increase in cognitive behaviour in both paradigms. A significant decrease in MDA and an increase in glutathione and catalase levels were observed only in rats treated with 200 and 300 mg/kg C. asiatica.

5. The present findings indicate that an aqueous extract of C. asiatica is effective in preventing the cognitive deficits, as well as the oxidative stress, caused by i.c.v. STZ in rats.

KEYWORDS :
ageing • Alzheimer's disease • Centella asiatica • learning and memory • oxidative stress • streptozotocin

Resep Obat dari Tanaman Pegagan

Pegagan (Centella asiatica L. Urban)
from :warintek.ristek.go.id

Pegagan termasuk suku atau familia Apiaceae. Tumbuh menjalar di atas tanah terutama di tempat yang banyak terkena sinar matahari langsung tetapi cukup lembab.
Nama lain : pegaga, daun kaki kuda, daun penggaga, pegago (Sumatera); antana, cowet gompeng, gagan-gagan, penigowang, calingan rambat (Jawa); bebele, paiduh (Nusa Tenggara); wisu-wisu, kisu-kisu (Sulawesi); dogauke (Irian); ji xue cao (Cina).
Kandungan : senyawa asiaticosida, senyawa antilepra, garam kalium, magnesiu, kalsium, besi, tanin.

Kegunaan :
Lepra. Segenggam pegagan segar, cuci, rebus dengan 2 gelas air sampai menjadi 3/4 gelas. Minum 3 kali @ 3/4 gelas per hari.

Hipertensi. 20 helai daun pegagan segar rebus dengan 2 gelas air sampai menjadi 3/4 gelas, saring, minum 3 kali @ 3/4 gelas.
Ambeien. 4-5 batang pegagan dan akarnya dicuci, rebus dengan 2 gelas air selama 5 menit, saring, minum rebusan ini 2 kali sehari @ 1 gelas selama beberapa hari.

Demam. Segenggam pegagan dicuci, lumatkan, beri 3/4 gelas air dan garam, aduk, saring. Minum pagi hari sebelum sarapan.

Demam yang tidak diketahui penyebabnya. Segenggam penuh daun pegagan dicuci, lumatkan, beri 1/2 gelas, saring, beri garam. Minum pagi hari sebelum sarapan. Hari berikutnya segenggam penuh daun pare dibuat sama seperti di atas. Lakukan selang-selang selama 10 hari.
Melancarkan air seni. Segenggam daun pegagan dicuci, lumatkan, tempelkan pada pusar.

Campak. 2 gengam daun pegagan dicuci, rebus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal 1 gelas, minum setiap hari sekali sampai sembuh.

Batuk. Segenggam pegagan segar, cuci, lumatkan, beri air 3/4 gelas dan gula batu, aduk, saring. Minum sekali sehari sampai sembuh.

Mimisan. Segenggam daun pegagan dicuci, rebus dengan 3/4 gelas air, saring, minum. Ulangi 3 kali sehari.

Sakit kepala. Segenggam daun pegagan, 1/4 sendok jintan dicuci, rebus dengan segelas air sampai tinggal setengah, saring, beri 1 sendok madu sebelum diminum.

Mata merah, bengkak. Segenggam daun pegagan dicuci, lumatkan, peras, saring, teteskan ke mata yang sakit 3-4 kali sehari.

Menambah nafsu makan. Segenggam daun pegagan segar dicuci, rebus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal segelas. Minum sehari segelas.

SUMBER :
Dalimartha, Setiawan. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ungaran : Trubus Agriwidya, 1999
Muhlisah, Fauziah. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya, 1999.
Tampubolon, Oswald T. Tumbuhan Obat. Jakarta : Penerbit Bhratara, 1995.
Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : PT. Intisari Mediatama, 1999.
From: Hawaiian Ecosystems at Risk project, http://www.hear.org/starr/hiplants/images/hires/html/starr_020803_0094_centella_asiatica.htm


Centella asiatica
From Wikipedia, the free encyclopedia

Centella asiatica is a small herbaceous annual plant of the family Mackinlayaceae or subfamily Mackinlayoideae of family Apiaceae, and is native to Sri Lanka, northern Australia, Indonesia, Iran[1], Malaysia, Melanesia, New Guinea, and other parts of Asia. Common names include Gotu Kola, Asiatic Pennywort, Luei Gong Gen, Takip-kohol, Antanan, Pegagan, Pegaga, vallaarai (வல்லாரை), Kula kud, Bai Bua Bok (ใบบัวบก), and Brahmi (although this last name is shared with Bacopa monnieri and other herbs). In Assamese it is known as Manimuni. It is used as a medicinal herb in Ayurvedic medicine and traditional Chinese medicine. Botanical synonyms include Hydrocotyle asiatica L. and Trisanthus cochinchinensis (Lour.) In sinhalese (Sri Lanka) Gotu = conical shape and Kola= leaf

Description
The stems are slender, creeping stolons, green to reddish green in color, interconnecting one plant to another. It has long-stalked, green, reniform leaves with rounded apices which have smooth texture with palmately netted veins. The leaves are borne on pericladial petioles, around 20 cm. The rootstock consists of rhizomes, growing vertically down. They are creamish in color and covered with root hairs.

The flowers are pinkish to red in color, born in small, rounded bunches (umbels) near the surface of the soil. Each flower is partly enclosed in two green bracts. The hermaphrodite flowers are minute in size (less than 3 mm), with 5-6 corolla lobes per flower. Each flower bears five stamens and two styles. The fruit are densely reticulate, distinguishing it from species of Hydrocotyle which have smooth, ribbed or warty fruit.

The crop matures in three months and the whole plant, including the roots, is harvested manually.

Habitat
Centella grows along ditches and in low wet areas. In Indian and Southeast Asian centella, the plant frequently suffers from high levels of bacterial contamination, possibly from having been harvested from sewage ditches. Because the plant is aquatic, it is especially sensitive to pollutants in the water, which easily are incorporated into the plant.

Culinary use
Centella is used as a leafy green in Sri Lankan cuisine. It is most often prepared as mallung; a traditional accompaniment to rice and curry, and goes especially well with vegetarian dishes such as parippu' (dhal), and jackfruit or pumpkin curry. It is considered quite nutritious. In addition to finely chopped gotu kola, mallung almost always contains grated coconut and may also contain finely chopped green chillies, chille powder (1/4 teaspoon), tumeric powder (1/8 teaspoon) and lime (or lemon) juice.

A variation of the extremely nutritious porridge known as Kola Kenda is also made with Gotukola by the Sinhalese people of Sri Lanka. Gotukola Kenda is made with very well boiled redrice (with extra liquid), cococnut milk and Gotukola which is liquidised. The porridge is accompanied with Jaggery for sweetness.

Centella leaves are also used in the sweet "pennywort drink."

Medicinal effects
Gotu kola is a mild adaptogen, is mildly antibacterial, anti-viral, anti-inflammatory, anti-ulcerogenic, anxiolytic, a cerebral tonic, a circulatory stimulant, a diuretic, nervine and vulnerary.

When eaten raw as a salad leaf, pegaga is thought to help maintain youthfulness. In Thailand cups with gotu kola leaves are used as an afternoon pick me up. A decoction of juice from the leaves is thought to relieve hypertension. This juice is also used as a general tonic for good health. A poultice of the leaves is also used to treat open sores. Interestingly, chewing on the plant for several hours induces entheogenic meditation, similar to the effects of salvia divinorum, although this practice is widely considered dangerous, as it can cause temporomandibular joint pains.[citation needed]

Richard Lucas claimed in a book published in 1979 that a subspecies "Hydrocotyle asiatica minor" allegedly from Sri Lanka also called "Fo ti tieng", contained a longevity factor called 'youth Vitamin X' said to be 'a tonic for the brain and endocrine glands' and maintained that extracts of the plant help circulation and skin problems. However according to master herbalist Michael Moore, it appears that there is no such subspecies and no Vitamin X is known to exist. Nonetheless some of the cerebral circulatory and dermatological actions claimed from centella (as hydrocotyle) have a solid basis.

Several scientific reports have documented Centella asiatica's ability to aid wound healing, which is responsible for its traditional use in leprosy. Upon treatment with Centella asiatica, maturation of the scar is stimulated by the production of type I collagen. The treatment also results in a marked decrease in inflammatory reaction and myofibroblast production.
The isolated steroids from the plant have been used to treat leprosy. In addition, preliminary evidence suggests that it may have nootropic effects. Centella asiatica is used to re-vitalize the brain and nervous system, increase attention span and concentration, and combat aging. Centella asiatica also has anti-oxidant properties. It works for venous insufficiency. It is used in Thailand for opium detoxification.

It is one of the constituent of Indian summer drink "thandaayyee"

Ayurvedic View

In India it is popularly known by a variety of names: Bemgsag, Brahma manduki, Brahmanduki, Brahmi (North India, West India), Gotu kola, Khulakhudi, Mandukparni, Mandookaparni, Mandukaparni (South India), or Thankuni depending on region. It is often confused with Bacopa monnieri which is the more famous "Brahmi", both have some common therapeutic properties in Vedic texts and both are used for improving memory. However, current research[citation needed] has clearly established the difference in pharmacological activities of these two herbs.

Gotu Kola acts as a powerful "brain food", and is known for its ability to enhance mental ability. It supports and improves comprehension , memory and recollection . It coordinates these three aspects of mind power to develop a more effective level of performance. It has a "Vayasthapana effect", meaning that it helps retard the aging process. It is excellent for both internal and topical application. Gotu Kola nourishes the mind-body connection and enhances the psychoneuro immune (PNI) response. It supports the formation of quality blood , as well as the bone marrow and nerves .[citation needed]

Folklore
Gotu Kola is a minor feature in the longevity myth of the Tai Chi Chuan master Li Ching-Yun. He purportedly lived to be 256, due in part to his usage of traditional Chinese herbs including Gotu Kola.

A popular folklore tale from Sri Lanka speaks of a prominent king from the 10th century AD named Aruna who claimed that Gotu Kola provided him with energy and stamina to satisfy his 50-woman harem.

References
^ magiran.com: فصلنامه پزشكي باروري و ناباروري، شماره 29
^ doi:10.1016/j.fct.2003.11.004
^ Microsoft Word - ~9446209.DOC
^ Winston, D., Maimes, S., Adaptogens: Herbs For Strength, Stamina, and Stress Relief, 2007, pp. 226-7
^ A Double-Blind, Placebo-Controlled Study on the Effects of Gotu Kola (Centella asiatica) on Acoustic Startle Response in Healthy Subjects. Journal of Clinical Psychopharmacology. 20(6):680-684, December 2000. Bradwejn, Jacques MD, FRCPC *; Zhou, Yueping MD, PhD ++; Koszycki, Diana PhD *; Shlik, Jakov MD, PhD
^ http://www.herbaled.org/media/sp2v3(a).mov Herbal Ed Smith
^ Natures Medicine by Richard Lucas et al. Prentice Hall, 1979
^ http://www.henriettesherbal.com/archives/best/1994/fo-ti.html Michael Moore "Fo ti"
^ Widgerow, Alan D.; Laurence A. Chait (2000-07). "New Innovations in Scar Management" (abstract). Aesthetic Plastic Surgery 24 (3): 227–234. Springer New York. doi:10.1007/s002660010038. ISSN: 0364-216X (Print) 1432-5241 (Online). Retrieved on 2007-01-28.
^ B. M. Hausen (1993)Centella asiatica (Indian pennywort), an effective therapeutic but a weak sensitizerContact Dermatitis 29 (4), 175–179 doi:10.1111/j.1600-0536.1993.tb03532.x
^ Centella asiatica Herbal Extracts, Centella asiatica Natural Herbal Extracts Co2 Herb Extract
^ Bradwejn, J., Zhou, Y., et al, A Double-Blind, Placebo-Controlled Study On The Effects of Gotu Kola (Centella asiatica) On Acoustic Startle Response in Healthy Subjects, J Clin Psychopharmacol 2000 Dec;20(6):680-4
^ Brinkhause, B., Lindner, M., et al, Chemical, Pharmacological and Clinical Profile of The East Asian Medical Plant Centella asiatica, Phytomedicine 2000 Oct;7(5):427-48
^ Bradwejn, J., Zhou, Y., et al, A Double-Blind, Placebo-Controlled Study On The Effects of Gotu Kola (Centella asiatica) On Acoustic Startle Response in Healthy Subjects, J Clin Psychopharmacol 2000 Dec;20(6):680-4
^ Winston, D., Maimes, S., Adaptogens: Herbs For Strength, Stamina, and Stress Relief, 2007, pp. 226-7
^ Cataldo, A., Gasbarro, V., et al, Effectiveness of the Combination of Alpha Tocopherol, Rutin, Melilotus, and Centella asiatica in The Treatment of Patients With Chronic Venous Insufficiency, Minerva Cardioangiol, 2001, Apr;49(2):159-63

Version 1.2, November 2002
Copyright (C) 2000,2001,2002 Free Software Foundation, Inc.
51 Franklin St, Fifth Floor, Boston, MA 02110-1301 USA
Everyone is permitted to copy and distribute verbatim copies
of this license document, but changing it is not allowed

Antanan (Pegagan) Meningkatkan Daya Ingat

Untuk meningkatkan daya ingat dan kecerdasan eseorang dapat diperoleh dari tanaman Ginko Biloba, khasiat tanaman ini sudah terkenal dan tumbuh di daerah sub tropis.

Salah satu tanaman obat yang tumbuh di Indonesia yang memiliki khasiat sama bahkan memiliki manfaat yang lebih banyak dibanding Ginko Biloba. adalah tanaman Pegagan (Centella asiatica L) atau sering disebut Antanan. Tumbuhnya di tempat yang basah, rawa-rawa, atau di sepanjang tepi sungai. Dan biasanya banyak ditemukan terutama di daerah dataran tinggi dan berbagai tempat seperti sawah, perkebunan teh, dan lain-lain.

Pegagan termasuk tanaman tahunan daerah tropis yang berbunga sepanjang tahun. Bentuk daunnya bulat, batangnya lunak dan beruas, serta menjalar hingga bisa mencapai semeter tingginya. Pada tiap ruas akan tumbuh akar dan daun dengan tangkai daun panjang dan akar berwarna putih. Dengan berkembang biak secara vegetatif seperti itu, ia cepat beranak-pinak. Jika keadaan tanahnya bagus, tiap ruas yang menyentuh tanah akan tumbuh menjadi tanaman baru.

Hasil uji klinis di India, tanaman ini dapat meningkatkan IQ, kemampuan mental, serta menanggulangi lemah mental pada anak-anak. Penelitian lain membuktikan, tanaman pegagan atau Centella ini dapat meningkatkan kemampuan belajar dan memori seseorang. Karena manfaatnya itu, tanaman ini juga dikenal sebagai "makanan otak".

Di antara sekian banyak kandungan bahan aktif pada tanaman centella seperti asam bebas, mineral, vitamin B dan C, bahan utama yang dikandungnya adalah steroid yaitu triterpenoid glycoside. Triterpenoid mempunyai aktivitas penyembuhan luka yang luar biasa. Beberapa bahan aktif akan meningkatkan fungsi mental melalui efek penenang, antistres, dan anticemas. Asiatosida berfungsi meningkatkan perbaikan dan penguatan sel-sel kulit, stimulasi pertumbuhan kuku, rambut, dan jaringan ikat. Dosis tinggi dari glikosida saponin akan menghasilkan efek pereda rasa nyeri. Dikatakan juga, saponin yang terkandung dalam tanaman ini mempunyai manfaat mempengaruhi collagen (tahap pertama dalam perbaikan jaringan), misalnya dalam menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan.

Mengingat manfaatnya, beberapa negara telah melakukan pembudidayaan,misalnya Hawaii. Bahkan di Oregon, AS, tanaman ini dibudidayakan di rumah kaca oleh Pacific Botanicals, pertanian herba organik. Namun, sebagian besar pasokan pasar berasal dari India yang kualitasnya kurang bagus dan biasanya berwarna kecoklatan. Kita sangat bersyukur, di Indonesia tanaman ini sangat mudah tumbuh dan memiliki kualitas yang sangat baik. Saat ini tanaman pegagan telah dipadukan dengan teh hijau sebagai pilihan terbaru minuman kesehatan. Bisa dibayangkan, teh hijau saja sudah sangat menyehatkan apalagi dipadu dengan daun pegagan yang berkhasiat mencerdaskan otak.
Mari kita jaga kesehatan kita dan keluarga dengan tanaman obat asli Indonesia. Semoga tanaman obat Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Tanaman Obat Antanan atau Pegagan (Centella asiatica)


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Spermatophyta
Kelas: Dicotyledone
Ordo: Umbillales
Familia: Umbilliferae (Apiaceae)
Genus: Centella
Spesies: C. asiatica & Hydrocotyle asiatica


Pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, pematang sawah ataupun diladang yang agak basah. Tanaman obat ini berasal dari daerah Asia tropik, terssebar di Asia tenggara, termasuk Indonesia, India, Republik Rakyat Cina, Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman obat ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan Antanan.

Sejak jaman dahulu, pegagan telah digunakan untuk obat kulit, gangguan syaraf dan memperbaiki peredaran darah. Masyarakat Jawa Barat mengenal tanaman ini sebagai salah satu tanaman untuk lalapan.

Nama Lokal
pegaga (Aceh), daun kaki kuda (Melayu), antanan (sunda), gagan-gagan, rendeng (jawa), taidah (bali) sandanan (irian) broken copper coin, buabok (Inggris), paardevoet (Belanda), gotu kola (India), ji xue cao (Hanzi)

Jenis Pegagan
Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan pennutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Tanaman obat Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpau di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembab dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air.

Kandungan
Pegagan yang simplisianya dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki kandungan asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid, brahminoside, madasiatic acid, meso-inositol, centelloside, carotenoids, hydrocotylin, vellarine, tanin serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa. Zat vellarine yang ada memberikan rasa pahit.

Sifat dan Manfaat
Tanaman obat Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan stimulan. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid)

Manfaat pegagan lainnya yaitu meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki; mencegah varises dan salah urat; meningkatkan daya ingat, mental dan stamina tubuh; serta menurunkan gejala stres dan depresi. pegagan pada penelitian di rsu dr.soetomo surabaya dapat dipakai untuk menurunkan tekanan darah,Penurunan tidak drastis, jadi cocok untuk penderita usia lanjut.

Pengolahan
Kebanyakan pegagan dikonsumsi segar untuk lalapan, tetapi ada yang dikeringkan untuk dijadikan teh, diambil ekstraknya untuk dibuat kapsul atau diolah menjadi krem, salep, obat jerawat, maupun body lotion.

sumber : wikipedia.org
GNU Free Documentation License
Version 1.2, November 2002
Copyright (C) 2000,2001,2002 Free Software Foundation, Inc.
51 Franklin St, Fifth Floor, Boston, MA 02110-1301 USA
Everyone is permitted to copy and distribute verbatim copies
of this license document, but changing it is not allowed.

Akar Manis


(Glycyrrhiza glabra L,) Familia :Papilionaceae (Leguminosae).
Nama Lokal :
NAMA SIMPLISIA Glycyrrhiza Radix, Liquiritae Radix; Akar Manis.

Penyakit Yang Dapat Diobati :SIFAT KHAS Menetralkan, rasa manis. KHASIAT Ekspektoran, anti inflamasi, dan spasmolitik.
Pemanfaatan :
KEGUNAAN
Anti kolestrol.
Bronkhitis.
Batuk.
Mulas
Tukak lambung

RAMUAN DAN TAKARAN
Batuk
Ramuan:
Akar Manis 1,5 gram
Rimpang 8 gram
Daun Sirih 3 lembar
Air 130 ml

Cara pembuatan:
Dibuat infus.

Cara pemakaian:
Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore sebelum makan, tiap kali minum 100 ml.

Lama pengobatan:
Diulang sampai sembuh.

Tukak Lambung
Ramuan:
Akar Manis 3 gram
Rimpang Kunyit 4 gram
Air 130 ml

Cara pembuatan:
Dibuat infus atau diseduh.

Cara pemakaian:
Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore. Tiap kali minum 100 ml.

Lama pengobatan
Diulang selama 14 hari. Bagi penderita yang tidak tahan panasnya kunyit, ramuan dapat ditambah air hingga encer, diendapkan dahulu kemudian diminum.

Peringatan
Takaran yang terlalu besar dan pemakaian terlalu lama dapat mengakibatkan hipoklamia.

Komposisi :
Glisirhisin, saponin, glikosida likuiritin, asparagin, umbeliferona, glabrolida, glukosa, sukrosa, asam likuiritat, asam hidroksiglisirhitat, zat pahit, minyak atsiri, dan asparagin.

Liquorice

Scientific classification
Kingdom: Plantae
Division: Magnoliophyta
Class: Magnoliopsida
Order: Fabales
Family: Fabaceae
Subfamily: Faboideae
Tribe: Galegeae
Genus: Glycyrrhiza
Species: G. glabra

Binomial name
Glycyrrhiza glabra
Liquorice (UK) or licorice (U.S.) (see spelling differences; pronounced /ˈlɪkərɪʃ, ˈlɪkərɪs, ˈlɪkrɪʃ/, or /ˈlɪkrɪs/) is the root of Glycyrrhiza glabra, from which a sweet flavour can be extracted. The liquorice plant is a legume (related to beans and peas) and native to southern Europe and parts of Asia. It is an herbaceous perennial, growing to 1 m in height, with pinnate leaves about 7–15 centimetres (3–6 inches) long, with 9–17 leaflets. The flowers are 0.8–1.2 cm (1/3 to 1/2 inch) long, purple to pale whitish blue, produced in a loose inflorescence. The fruit is an oblong pod, 2–3 centimetres (about 1 inch) long, containing several seeds.[2]

Cultivation and uses
Liquorice grows best in deep, fertile, well-drained soils, with full sun, and is harvested in the autumn two to three years after planting.[2]

Liquorice extract is produced by boiling liquorice root and subsequently evaporating most of the water (in fact, the word 'liquorice' is derived from the Ancient Greek words for 'sweet root'). Liquorice extract is traded both in solid and syrup form. Its active principle is glycyrrhizin, a sweetener more than 50 times as sweet as sucrose which also has pharmaceutical effects. G. uralensis contains this chemical in much greater concentration.

Main article: Liquorice (confectionery)
Liquorice flavour is found in a wide variety of liquorice candies. The most popular in the United Kingdom are liquorice allsorts. In continental Europe, however, far stronger, saltier candies are preferred. It should be noted, though, that in most of these candies the taste is reinforced by aniseed oil, and the actual content of liquorice is quite low. However, in the Netherlands, where liquorice candy ("drop") is one of the most popular forms of candy, only a few of the many forms that are sold contain aniseed (although mixing it with mint, menthol or with laurel is popular, and mixing it with ammonium chloride creates the very popular salty liquorice known in Dutch as zoute drop.)
Pontefract in Yorkshire was the first place where liquorice mixed with sugar began to be used as a sweet in the same way it is in the modern day.[4]. Pontefract Cakes were originally made there.

Liquorice flavoring is also used in soft drinks (such as root beer), and is in some herbal teas where it provides a sweet aftertaste. The flavour is common in medicines to disguise unpleasant flavours. Dutch youth often make their own "dropwater" (liquorice water) by putting a few pieces of laurel liquorice and a piece of liquorice root in a bottle with water and then shake it to a frothy liquid. Also popular in the Netherlands is a liquorice based liqueur called "dropshot
Liquorice is popular in Italy
(particularly in the South) and Spain in its natural form. The root of the plant is simply dug up, washed and chewed as mouth-freshener. Throughout Italy unsweetened liquorice is consumed in the form of small black pieces made only from 100% pure liquorice extract; the taste is bitter and intense, also popular in the UK too 'L. Imps'. In Calabria a popular liqueur is made from pure liquorice extract. Liquorice is also very popular in Syria where it is sold as a drink. Dried liquorice root can be chewed as a sweet. Black liquorice contains approximately 100 calories per ounce (28g).[6]

Chinese cuisine uses liquorice as a culinary spice for savoury foods. It is often employed to flavour broths and foods simmered in soy sauce.

Other herbs and spices of similar flavour include anise, star anise, tarragon, and fennel.

It is also the main ingredient of a very well known soft drink in Egypt, called عرقسوس ('erk-soos).

Medicinal use

Powdered liquorice root is an effective expectorant, and has been used for this purpose since ancient times, especially in Ayurvedic medicine where it is also used in tooth powders and is known as Jastimadhu. Modern cough syrups often include liquorice extract as an ingredient. Additionally, liquorice may be useful in conventional and naturopathic medicine for both mouth ulcers[8] and peptic ulcers.[9] Non-prescription aphthous ulcer treatment CankerMelts incorporates glycyrrhiza in a dissolving adherent troche. Liquorice is also a mild laxative and may be used as a topical antiviral agent for shingles, ophthalmic, oral or genital herpes.

Liquorice affects the body's endocrine system as it contains isoflavones (phytoestrogens). It can lower the amount of serum testosterone,[10] but whether it affects the amount of free testosterone is unclear. Consuming licorice can prevent hyperkalemia. Large doses of glycyrrhizinic acid and glycyrrhetinic acid in liquorice extract can lead to hypokalemia and serious increases in blood pressure, a syndrome known as apparent mineralocorticoid excess. These side effects stem from the inhibition of the enzyme 11β-hydroxysteroid dehydrogenase (type 2) and subsequent increase in activity of cortisol on the kidney. 11β-hydroxysteroid dehydrogenase normally inactivates cortisol in the kidney; thus, liquorice's inhibition of this enzyme makes the concentration of cortisol appear to increase. Cortisol acts at the same receptor as the hormone aldosterone in the kidney and the effects mimic aldosterone excess, although aldosterone remains low or normal during liquorice overdose. To decrease the chances of these serious side effects, deglycyrrhizinated liquorice preparations are available. The disabling of similar enzymes in the gut by glycyrrhizinic acid and glycyrrhetinic acid also causes increased mucus and decreased acid secretion. It inhibits Helicobacter pylori, is used as an aid for healing stomach and duodenal ulcers, and in moderate amounts may soothe an upset stomach. Liquorice can be used to treat ileitis, leaky gut syndrome, irritable bowel syndrome and Crohn's disease as it is antispasmodic in the bowels.[11]

Liquorice is an adaptogen which helps reregulate the hypothalamic-pituitary-adrenal axis. It can also be used for auto-immune conditions including lupus, scleroderma, rheumatoid arthritis and animal dander allergies.[11]

In traditional Chinese medicine, liquorice is commonly used in herbal formulae to "harmonize" the other ingredients in the formula and to carry the formula into all 12 of the regular meridians[12] and to relieve a spasmodic cough.

In traditional American herbalism it is used in the Hoxsey anti-cancer formula.

source: http://en.wikipedia.org
Prof. Dr. Otto Wilhelm Thomé Flora von Deutschland, Österreich und der Schweiz 1885, Gera, Germany

Author Shizhao
鬼针草(Bidens pilosa)

Scientific classification:
Kingdom: Plantae
Division: Magnoliophyta
Class: Magnoliopsida
Order: Asterales
Family: Asteraceae
Genus: Bidens
Species: B. pilosa
Binomial name : Bidens pilosa

Bidens pilosa is a species in the plant family Asteraceae. It is considered a weed in some tropical habitats. However, in some parts of the world it is a source of food. They sprout individual flowers which are small, yellow and usually contain 4 to 5 white petals. The seeds are black and contain 4-5 black burs which cling to livestock and humans.

The plant is known under many different names:

Afrikaans: knapsekêrel (from Kaapse kerwel, literally "Cape Chervil")Also, Black Jack.
Bontoc: nguad, puriket
English: broom stick, broom stuff, cobbler's pegs, devil's needles. Known in Australia as farmers friends, pitchforks, etc
Fijian: batimadramadra, matakaro, matua kamate, mbatikalawau
Filipino: pisau-pisau
French: bident hérissé, herbe d'aiguille, herbe villebague, piquants noirs
Hawaiʻian: kī, kī nehe, kī pipili, nehe
Ibatan: dadayem
Japanese: ko-sendangusa
Maori (Cook Islands): kamika tuarongo, nīroa, piripiri, piripiri kerekere, piripiri nīroa
Niuean: kofetoga (=Tongan bamboo, i.e.: junk bamboo)
Futunan: tae puaka (=pig shit)
Pukapukan: pilipili
Spanish: acetillo, amor seco, arponcito, asta de cabra, bidente piloso, cacho de cabra, cadillo, hierba amarilla, masquia, mazote, papunga chipaca, pega-pega, perca, rosilla, sirvulaca
Tahitian: piripiri (=sticker)
Tongan: fisi‘uli (=black flower)
Source: wikipedia.org

Ajeran


(Bidens pilosa L.)


Sinonim :
Bidens sundaica Blume (1826), Bidens leucorrhiza (Lour.) DC. (1836), Bidens pilosa L. var. minor (Blume) Sherff (1925).

Familia :
Asteraceae (Compositae).

Penyakit Yang Dapat Diobati :
SIFAT KHAS Mendinginkan, rasa pahit, dan melancarkan peredaran darah. KHASIAT Antiinflamasi, antipiretik, dan antiseptik.

KEGUNAAN
1. Demam.
2. Pencernaan tidak baik.
3. Rematik (nyeri persendian).
4. Selesma.
5.Usus buntu.
6.Wasir.

RAMUAN DAN TAKARAN

Selesma dan Demam
Ramuan:
Herba Ajeran (3 gram)
Babakan Pule (200 mg)
Daun Sembung (3 gram)
Daun Poko (2 gram)
Air (130 ml)

Cara pembuatan:
Dibuat infus atau diseduh.

Cara pemakaian:
Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml.

Lama pengobatan:
Diulang sampai sembuh.

Usus Buntu
Penyakit usus buntu harus segera ditangani oleh dokter. Bila karena sesuatu hal, dokter belum dapat ditemui, ramuan ini dapat digunakan.

Ramuan:
Herba Ajeran (5 gram)
Air (120 ml)

Cara pembuatan:
Dibuat infus atau pil.

Cara pemakaian:
Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml, atau 3 kali sehari 9 pil.

Lama pengobatan:
Diulang selama 20 hari.

Komposisi :
Alkaloid poliina, saponin, zat pahit, minyak atsiri, dan zat samak.


Tumbuhan ini termasuk tumbuhan liar dan banyak ditemui di pinggir jalan. Kadang-kadang ditanam di halaman, sebagai tanaman hias. Tumbuhan ini tergolong terna, tinggi dapat mencapai 150 cm. Batang berbentuk segi empat, warna hijau. Daun bertiga-tiga, masing-masing berbentuk bulat telur, pinggir bergerigi. Bunga bertangkai panjang, mahkota bunga berwarna putih dengan putik berwarna kuning. Bagian yang digunakan Seluruh bagian tumbuhan yang berada di atas tanah (herba).

Nama Lokal :
NAMA DAERAH: ajeran, hareuga (Sunda), jaringan, ketul (Jawa). NAMA ASING: Black jack (En). Sornet (Fr). Malaysia: kancing baju, pau-pau pasir, keroten. Papua New Guinea: ivu na mag (Gunantuna, New Britain), rakot (Kurtatchi, Bougainville). Philippines: dadayem (Ibanag), burburtak (Ilocano), pisau-pisau (Bisaya). Thailand: puen noksai, kee nok sai, yaa koncham khaao. Vietnam: d[ow]n bu [oos] t, t [uwr] t [oo] hoang, q [ur]y tr [aa] m th [ar] o. NAMA SIMPLISIA Bidentitis pilosae Herba; Herba Ajeran.

Sumber : http://www.ipteknet.id/

Adem Ati



Adem Ati (Litsea glutinosa (Lour.) C.D. Robins.)
Sinonim : Litsea chinensis Lamk. Litsea littoralis (L.)
Vill.Familia : Lauraceae.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Sifat Khas Manis, pahit, dan mendinginkan. KHASIAT Anti inflamasi, analgesik, dan hemostatik.

Berupa pohon, tinggi dapat mencapai 10 meter. Batang berkayu dan bercabang-cabang. Daun tunggal, bentuk elips, warna hijau, dan berbulu halus. Perbungaan bentuk malai, mahkota bunga berwarna putih kekuningan. Buah bulat, buah muda berwarna hijau, setelah tua berwarna hitam. Akar tunggang warna cokelat muda. Bagian yang digunakan Akar, kulit kayu, dan daun.

Nama Lokal :
NAMA DAERAH: Huru batu, Huru beusai, Huru tangkalak, Madang kapas (Sd); Adem ati, Kapu ketek, Nyampu wingka, Wuru beling (Jw).

NAMA ASING:
NAMA SIMPLISIA Litseae glutinosae Radix; Akar Adem Ati. Litseae glutinosae Cortex; Kulit kayu Adem Ati. Litseae glictinosae Folium; Daun Adem Ati.

Pemanfaatan :
Akar:
1. Mencret.2. Kencing manis.3. Radang usus.4. Radang kulit bernanah (obat luar).

Kulit kayu dan Daun (obat luar):1. Bisul;2. Luka berdarah;3. Obat penenang;4. Radang kulit bernanah;5. Radang payudara;

RAMUAN DAN TAKARAN
Ramuan Kencing Manis :
Akar Adem Ati 5 gramDaun Salam segar 4 lembarAir 140 ml Cara pembuatan:Dibuat infus.Cara pemakaian:Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, setiap minum 100 ml.Mencret,

Ramuan Radang Usus :
Akar Adem Ati 6 gramRimpang Kunyit segar 6 gramAi 110 mlCara pembuatan:Dibuat infus atau diseduh. Cara pemakaian:Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Lama pengobatan:
Diulang selama 3 hari (Mencret), 14 hari (Radang usus). Bila tidak menunjukkan gejala penyembuhan dianjurkan untuk ke dokter.Radang Kulit Bernanah, Radang Payudara, Luka, dan
Ramuan Bisul :
Kulit kayu/Daun segar Adem Ati secukupnya Daun Sambilata secukupnya Air secukupnya Cara pembuatan:Dipipis hingga berbentuk pasta.Cara pemakaian:Ratakan pasta pada bagian kulit yang sakit. Sebelum dibaluri dengan pasta tersebut, sebaiknya dibersihkan dengan air hangat dahulu. Lama pengobatan: Diperbaharui setiap 3 jam.

Komposisi :
Alkaloid (golongan fenantrena dan aporfina), flavonoida, tanin, polifenol, dan minyak atsiri.

Contact Us

edhi_sandra@yahoo.com

Edhi Sandra :
Jl. Kemuning VI Blok M VI No. 9
Taman
Cimanggu, Bogor
Jawa Barat - Indonesia
Telp. / Fax : (0251) 344879
hp 08128213720,
0817154375

Rhino H. Pranapati
Jl. Alam Asri Raya K/43, Viladago Pamulang

Tangerang - Banten
Telp : 021-92080100